KUPANG — SAYA akhirnya teringat dua atau tiga tahun lalu, Romo Dr. Hans Monteiro yang baru ditetapkan oleh Sri Paus sebagai Uskup Larantuka menggantikan Uskup Frans Kopong Kung, mengirim beberapa tulisan opini ke Redaksi Pos Kupang melalui saya.
Entah dari mana ia mendapatkan nomor WA saya. Saya tanyakan pada anak Megi Burin yang tengah kuliah di Ledalero, ia bilang, tidak pernah memberikan nomor WA saya kepada pastor ini.
Dialog saya dengan Romo Hans cukup intens untuk beberapa waktu. Setelah itu jedah sampai detik ini. Sampai saya meninggalkan Pos Kupang (purna) pada bulan Mei 2025 lalu.
Nada chatting dosen liturgi ini sungguh humanis. Tidak memberi kesan tinggi hati. Ternyata, lelaki yang tampil apa adanya itu akhirnya menjadi seorang “bishop” di wilayah paling timur Pulau Flores itu. Dia yang rendah hati itu akan selalu kita cium cincin uskupnya kala bersua dengannya. Lambang kegembalaan dan ketaatan umat pada uskup.
Opininya itu saya teruskan ke Redaktur Opini, Om Feri Jahang dengan catatan kecil, Tolong Pertimbangkan Opini Romo Hans ini untuk Tayang di Pos Kupang. Saya lupa tema tulisannya.
Tulisan-tulisannya itu akhirnya tayang satu dua hari ke depan setelah saya menerima opininya itu.
Bagi saya, Mgr. Hans telah menunjukkan sikap yang rendah hati. Familiar. Humanis dan menyejukkan hati. Semoga perjalanan ia menjadi uskup dengan wilayah penggembalaan Flotim, Solor, Adonara dan Lembata lancar adanya terutama ia mampu membawa umat tumbuh dalam iman dan pengharapan yang teguh.
Proficiat Mgr. Hans Monteiro. Tuhan memberkati. Terima kasih untuk jasa-jasa yang mulia Mgr. Frans Kopong Kung yang telah menggembalakan umat lebih dari dua dasawarsa.
Seperti Kena Sambar Petir
Saat bicara di hadapan umat di Gereja Katedral Larantuka, Mgr. Hans tetap merendah. Ia berkisah saat dipanggil — mungkin saja oleh Nunsio untuk menghadap ke Jakarta, ia merasa seperti tersambar petir. “Kita seperti tersambar petir,” katanya dengan dialek Larantuka yang kental.
Apa yang ia rasakan itu terasa wajar karena menerima estafet kepemimpinan itu butuh persiapan diri. Butuh kesiapan mental yang teguh dan kokoh. Tapi, Mgr. Hans katakan, Tuhan akan selalu menguatkan. Ia juga berharap dukungan dari umat selama ia memimpin keuskupan, entah sampai kapan. Selama dua puluh lima tahun menjalani hidup bakti sebagai imam, cuma lima tahun ia kembali ke keuskupan ini. Dua puluh tahun sisanya ia menjalani tugas di luar keuskupan, yakni mengikuti pendidikan magister dan doktoral di luar negeri serta mengajar di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero. Meski kata dia, ia tetap menjadi imam keuskupan itu.
Sebagaimana dikatakan oleh Uskup Frans Kopong Kung, tiga bulan lagi setelah pengumuman ini, uskup baru akan dilantik. Jika menghitung dari November ini maka pada Februari 2026, Mgr. Hans akan ditahbiskan menjadi uskup kelima di wilayah itu.
Uskup Larantuka pertama, yakni Mgr.Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek, SVD sejak tanggal 8 Maret 1951-3 Januari 1961 lalu Uskup Gabriel pindah tugas.
Pengganti Uskup Gabriel yakni, Mgr.Antonius Hubertus Thijssen, SVD dari 3 Januari 1961 sampai 23 Februari 1973 hingga ia mengundurkan diri.
Kemudian diganti oleh Mgr.Darius Nggawa, SVD dari 28 Februari 1974-6 Juni 2004 hingga memasukki masa pensiun.
Selanjutnya, Uskup Larantuka dipimpin Mgr.Fransiskus Kopong Kung sejak 16 Juni 2004 sampai sekarang.
Mgr. Yohanes Hans Monteiro lahir di
Larantuka, 15 April 1971.
Ia menempuh pendidikan di Seminari Menengah Santo Dominggo Hokeng. Ia kemudian melanjutkan studi filsafat dan teologi di Institut Filsafat Katolik Ledalero. Diitahbiskan menjadi imam pada 14 Juli 1999. Selama beberapa tahun, ia bertugas sebagai pengajar di Seminari Menengah Santo Dominggo Hokeng, Larantuka. Kemudian melanjutkan studi di Universitas Wina, Austria dan menerima gelar Licentiate dan Doktor Liturgi.
Selama lebih dari satu dasawarsa, ia memegang jabatan sebagai vikaris paroki di Franz-von-Assisi-Kirche (Mexikoplatz) dan Maria Himmelfahrt di Bad Deutsch-Altenburg. Setelah pulang ke Indonesia pada 2018, ia mengajar Liturgi di IFTK Ledalero serta menjadi pembina di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Keuskupan Maumere. Pada 2022, ia ditunjuk menjadi anggota Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). (pol/sumber-sumber) *









