Lintas Flobamorata
Home / Lintas Flobamorata / Derita Pak Alfons Fahik dan Ibu…

Derita Pak Alfons Fahik dan Ibu…

BURIN -- Sahabat Monsinyur Gabriel Manek Cabang Assisi saat mengunjungi suami istri Alfons Fahik, beberapa waktu lalu.
BURIN -- Sahabat Monsinyur Gabriel Manek Cabang Assisi saat mengunjungi suami istri Alfons Fahik, beberapa waktu lalu.

KELANANTT.COM, KUPANG — SORE tadi saya sungguh bersedih. Hati ini menjadi haru-biru. Sungguh mati! Saya rasa kita yang hadir di kediaman Bapa Alfons Fahik dan ibu tadi merasakan hal yang senada.

Saya membayangkan betapa suami istri ini melewati hari-hari yang sungguh kelam. Mungkin juga hari-hari yang sungguh kejam. Mendera. Mereka tak berdaya. Dua-duanya sakit, terserang strok. Hanya duduk di kursi roda dan terbantu pula dengan tongkat yang menyanggah. Semoga saja di rumah ini ada anak atau keluarga yang mendampingi mereka agar bebannya sedikit lebih ringan. Dari tadi saya tak melihat ada orang lain selain pasutri ini.

Kabar tadi menyebutkan bahwa ada seorang putranya yang tinggal bersama dan dialah yang “menyanggah” serta menghandel semua hal domestik di rumah itu. Semoga anak ini tabah dan kuat selalu menghadapi ujian hidup ini.

Doa-doa yang kita panjatkan sungguh pula meringankan beban hidup Bapa Alfons dan ibu. Doa dan “penumpangan” tangan Sahabat Monsinyur Gabriel Manek di atas kepala keduanya tadi dapat meneguhkan hati Pak Alfons dan ibu. Juga dapat menyemangati hidupnya.

Seperti kata Mgr.Gabriel Manek, ” Bila dapat menyesuaikan diri dengan sesama bergembiralah dan bersedih bersama mereka serta berkorban karena Yesus dan untuk Yesus (September 1960 dari Buku 100 Tahun Mgr. Gabriel Manek, SVD).”

Panitia Masjid Al’ Muharam Kupang, NTT Sembelih 8 Ekor Sapi dan 7 Ekor Kambing Kurban

Saya percaya, melalui dan dengan Monsinyur Gabriel Manek akan ada kesembuhan secara fisik dan mental. Akan ada pula mukjizat dalam hidup Pak Alfons dan ibu.

Tiap kita memang punya salib kehidupan. Beban itu sah milik kita karena melekat di pundak hidup. Karena berat maka patut di-sharingkan atau dibagi sehingga dapat berkurang. Bisa jadi beban itu hilang karena ada spirit baru. Tadi, kita telah meringankan beban hidup keduanya. Kita juga yakin dengan melakukan sharing mereka berbahagia meski di tengah hujan airmata.

Terima kasih untuk Bapa Adri Cene, Bapa Anton Bele, Mama Yudith Salassa, Mama Oa, Bapa Anis Mau, Ibu Meti Wungubelen, Mama Ros Woso, Bapa Tobi, Tamonob, No Yulius dan semua SMGM yang telah hadir dan memberi “perhatian” pada keluarga ini. Tuhan memberkati kita selalu.

Aksi karitatif ini sebagai bentuk pelayanan rutin SMGM untuk melanjutkan semangat pelayanan Hamba Allah Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek, SVD, untuk mengunjungi mereka yang sakit atau mereka mengalami kesulitan dan membutuhkan perhatian.

Kunjungan ini dilakukan dengan menjalankan prinsip pelayanan 5M, yaitu mengunjungi, mendengar, menyentuh, menghibur, dan mendoakan.

Sapi Kurban dari Presiden Sampai ke Masjid di Lembata

Kepada KELANA-NTT.COM, Penasihat SMGM Pusat, Dr. Anton Bele, mengatakan, dalam tradisi Gereja Katolik, proses menuju beatifikasi atau pemberian gelar bagi orang Kudus bagi seseorang yang telah meninggal sebagai santo-santa merupakan jalan yang panjang. Dibutuhkan doa dari semua pihak termasuk kaum awam, termasuk bukti-bukti fisik yang outentik dan bukti penyembuhan dan lainnya.

Anton Bele yang juga pencetus Kwadran Bele ini mengatakan, melalui Komunitas Suster-Suster Putri Renya Rosari yang didirikan oleh Mgr. Gabriel Manek, dibentuklah Sahabat Monsinyur Gabriel Manek sejak beberapa tahun lalu di seluruh dunia. Saat ini anggotanya berjumlah hampir 2.000 orang.

Ia mengatakan, semasa hidup Monsinyur Gabriel Manek dikenal luas sebagai uskup kaum miskin karena karya dan kedekatannya dengan kaum papa termasuk mereka yang sakit.

Sehingga sampai sekarang kata dia, telah terjadi sejumlah mukjizat besar maupun mukjizat kecil karena mereka berdoa kepada Tuhan melalui perantara Monsinyur Gabriel Manek.

Anton menyebut seperti orang terpapar miskin asal Maluku, dengan terus mendaraskan doa kepada Tuhan melalui Monsinyur Gabriel Manek, kini ia telah memiliki usaha yang besar dan sekarang dinobatkan sebagai Ketua Umum SMGM wilayah itu.

Lembata Fishing Tournament 2026 Segera Digelar

Kemudian, kata dia, ada seorang ibu hamil di Kabupaten Lembata yang divonis oleh dokter tidak bisa dibantu secara medis, tetapi setelah berdoa di Kapel Gabriel Manek di Larantuka, si ibu itu akhirnya bisa melahirkan normal dan sekarang anaknya sudah SMP.

Seorang bapak yang sakit jiwa di Lembata selama tujuh tahun, dengan doa dan meminum air yang diberkati Monsinyur Gabriel Manek semasa hidupnya bapak itu kini sembuh dari sakit.

Anton Bele juga mengatakan atas keputusan Bapa Suci di Vatikan, maka kini almarhum Mgr. Gabriel Manek menyandang gelar Servus Dei atau Hamba Allah. Untuk proses ini saja memakan waktu cukup lama, bertahun-tahun. Salah satu bukti pendukung menjadi Hamba Allah adalah jasadnya masih utuh sampai saat ini.
Sejauh ini belum ada orang Indonesia yang dianugerahi gelar orang kudus oleh Gereja Katolik.

Ketua SMGM Keuskupan Agung Kupang sekaligus Bendahara II SMGM Pusat, Adrianus Ceme mengatakan, Komunitas Sahabat Monsinyur Gabriel Manek
(SMGM) merupakan Komunitas awam yang dibentuk oleh Kongregasi Suster-Suster Putri Renya Rosari (PRR) beberapa tahun ini.

Saat ini pihaknya terus membentuk cabang SMGM di berbagai paroki di Kota Kupang selain berencana untuk “turun” bersama tim ke wilayah keuskupan ini membentuk cabang-cabang. (pol)