KELANA-NTT.COM, JAKARTA – Praktisi Maritim sekaligus Pelaut Muda Indonesia, Marianus Wilhelmus Lawe memandang bahwa keberadaan Badan Urusan Logistik (Bulog) Ikan menjadi kebutuhan mendesak bagi Indonesia sebagai negara maritim dengan potensi perikanan yang besar.
Lembaga semacam ini kata Wilhelmus dianggap penting untuk menjaga stabilitas harga komoditas perikanan sekaligus melindungi nelayan dari fluktuasi pasar yang selama ini kerap merugikan masyarakat pesisir saat hasil tangkapan melimpah.
Hal itu dikatakan Wilhelmus sebagaimana berita yang dilansir Tribun News, Senin, 25 Mei 2026.
Lelaki asal Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mengatakan, di tengah ketidakpastian harga ikan dan lemahnya sistem distribusi hasil laut nasional, kehadiran Bulog Ikan dapat menjadi instrumen negara untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga di pasar.
Pemerintah didorong segera merealisasikan pembentukan Bulog Ikan di wilayah-wilayah perairan potensial Indonesia.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memerkuat sistem logistik perikanan nasional sekaligus memastikan distribusi ikan berjalan merata hingga ke daerah terpencil dan kepulauan.
Ia mengatakan pembentukan Bulog Ikan juga dinilai dapat memerkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim, tingginya biaya operasional melaut, serta ketimpangan rantai distribusi hasil perikanan.
Marianus mendorong pemerintah segera merealisasikan pembentukan Bulog Ikan di berbagai wilayah perairan potensial Indonesia.
“Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi perikanan sangat besar. Sayangnya, hingga kini belum memiliki mekanisme penyangga yang kuat seperti halnya pada komoditas beras,” ujar Marianus.
Menurut Marianus, selama ini nelayan kerap menghadapi ketidakpastian harga ketika hasil tangkapan meningkat pada musim tertentu.
Di sisi lain, distribusi ikan antardaerah juga dinilai belum optimal sehingga harga di tingkat konsumen tetap tinggi, sementara harga di tingkat nelayan justru jatuh.

Marianus Wilhelmus Lawe
“Bulog Ikan dapat menjadi instrumen penting negara untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga ikan di pasar. Selain melindungi nelayan, langkah ini juga akan memerkuat ketahanan pangan nasional berbasis protein ikan,” katanya.
Marianus menjelaskan, konsep Bulog Ikan tidak hanya berfungsi menyerap hasil tangkapan nelayan, tetapi juga menjaga ketersediaan pasokan ikan secara merata di seluruh wilayah Indonesia, termasuk kawasan kepulauan dan daerah terpencil.
Ia menilai fluktuasi harga ikan selama ini dipengaruhi lemahnya sistem penyimpanan dan distribusi.
Saat produksi meningkat, harga ikan di tingkat nelayan sering anjlok drastis sehingga banyak nelayan kesulitan memperoleh keuntungan yang layak. Karena itu, pemerintah diharapkan dapat melakukan intervensi pasar melalui penyerapan hasil tangkapan saat harga turun.
Marianus juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur logistik pendukung, terutama fasilitas rantai dingin atau cold chain.
Menurutnya, keberhasilan program Bulog Ikan sangat bergantung pada kesiapan gudang pendingin, pelabuhan perikanan modern, hingga sistem distribusi berbasis teknologi agar kualitas ikan tetap terjaga sampai ke konsumen.
Dorongan pembentukan Bulog Ikan sebenarnya juga pernah disampaikan kalangan nelayan.
Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) di akhir 2025 pernah meminta pemerintah membentuk Bulog Perikanan sebagai lembaga yang mengurusi pangan laut di tengah terus menurunnya kesejahteraan nelayan dalam tiga tahun terakhir.
Ketua Umum KNTI, Dani Setiawan, ketika itu, mengatakan Bulog Perikanan penting untuk menstabilkan harga ikan sekaligus menjamin pendapatan nelayan kecil.
Menurut dia, lembaga tersebut dapat berfungsi sebagai offtaker hasil tangkapan nelayan saat musim panen agar harga tetap layak, sekaligus menjadi cadangan pangan perikanan nasional.

Pernah Disuarakan Susi
Gagasan pembentukan semacam Bulog Ikan sebenarnya pernah disuarakan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.
Saat masih menjabat, Susi mendorong agar Indonesia memiliki lembaga yang mampu menjaga pasokan ikan tetap tersedia bagi masyarakat.
Ketika itu, Susi mengusulkan agar Perum Perikanan Indonesia dan PT Perikanan Nusantara mengambil peran sebagai penyangga pasokan ikan nasional.
“Musim beli tampung. Membuat kartel bisnis untuk menjaga suplai protein cukup untuk anak-anak bangsa. Jadi Bulog-nya ikan,” ujar Susi.
Ia juga menilai perusahaan logistik seperti PT Pos perlu ikut terlibat dalam distribusi hasil perikanan antardaerah melalui konsep “fish by mail. (*/pol)









