KELANANTT.COM, KUPANG — Kasus pemukulan ibu guru, Ludguirda Djami di Kecamatan Mahu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Hari Guru Nasional dan HUT ke-80 PGRI memantik reaksi dari berbagai pihak, terutama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai wadah berhimpun para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut.
Ketua PGRI NTT, Dr. Samuel Haning di Kupang, Rabu, 26 November 2025 mengecam keras tindak kekerasan oknum warga terhadap itu. Kasus itu terjadi saat guru itu dalam perjalanan menuju ke sekolah menggunakan sepeda motor untuk mengikuti rangkaian acara HUT itu.
“Walau belum mendapat laporan resmi kronologi kejadian, saya menyatakan bahwa kasus yang terjadi di Sumba Timur, itu kriminalisasi terhadap seorang pendidik. Masyarakat harus menghormati dan menghargai seorang guru, apalagi korban adalah seorang guru perempuan. Tindakan itu benar-benar melecehkan profesi guru. Dan, siapa pun yang melecehkan profesi guru, saya lawan,” tandas Sam Haning.
Sam Haning meminta Aparat Penegak Hukum (APH) segera bertindak menyelidiki, menangkap dan memroses hukum oknum pelaku. Dia menegaskan, guru tidak boleh dikriminalisasi.
Dulu, kata Sam Haning, guru sangat dihormati dan dihargai tapi sekarang mengapa orang semena-mena melecehkan dan mengkriminalisasi guru yang mengemban tugas mulia mendidik anak-anak bangsa. Jika kasus itu akibat perlakuan siswa atau orang tua siswa, lanjut Sam Haning, siswanya dikeluarkan saja dari sekolah supaya menjadi efek jera bagi masyarakat untuk tidak melakukan kekerasan terhadap guru lagi
“PGRI siap mendampingi korban. Memang sampai sekarang kami belum mendapat laporan lengkap terkait kejadian itu, tapi, sebagai wadah yang mengayomi para guru kami siap turun tangan. Dan, jika sudah ada laporan lengkap kejadian tersebut, bidang hukum PGRI NTT turun tangan memberikan pendampingan dan mengawal proses hukumnya hingga tuntas. Kita tidak main-main, ini menyangkut harga diri dan wibawa guru sebagai garda terdepan kecerdasan bangsa,” tegas Sam Haning.
Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT PGRI ke-80 di Sumba Timur dinodai kasus pemukulan, Ludguirda Djami, seorang ibu guru yang mengajar di daerah 3 T oleh oknum yang belum diketahui identitasnya, Selasa, 25 November 2025.
Korban yang akrab disapa Nona tersebut dipukul oknum pelaku saat hendak ke sekolah mengikuti upacara peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-80 PGRI.
Ibu Nona, adalah guru SD Inpres Praikalla, Desa Praikalla, Kecamatan Mahu, Kabupaten Sumba Timur, berjarak kurang lebih 100 kilometer arah timur Kota Waingapu. Sekolah ini termasuk wilayah 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).
Informasi yang dihimpun menyebutkan, saat itu Nona sedang mengendarai sepeda motornya membawa logistik berupa dus berisi makanan dan snack yang akan digunakan untuk kegiatan di sekolah.
Menurut keterangan, motor yang dikendarai korban berada dalam kondisi rentan karena ban depan gembos sehingga berjalan pelan. Saat itu seorang oknum warga yang tidak dikenal mendekati korban dan memukulnya dari belakang mengenai punggung.
”Korban dipukul di bagian belakang (punggung) saat masih di atas motor. Nona kaget dan beruntung tidak jatuh,” tutur seorang kerabat korban.
Korban tidak dapat berbuat banyak saat dipukul karena motornya dalam kondisi pecah ban dan dia tidak mengetahui apa motif pelaku melakukan aksi kekerasan tersebut.
Tindakan kekerasan terhadap guru, terutama di Hari Guru yang seharusnya menjadi momen apresiasi, menuai keprihatinan mendalam. Tindakan tersebut dinilai tidak dapat dibenarkan dan melanggar hukum.(gem)









