KELANA-NTT.COM, KUPANG — Kasus pemukulan Ibu Guru Ludguirda Djami di Kecamatan Mahu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah diselesaikan dengan cara damai pada hari Kamis, 27 November 2025.
Ketua PGRI NTT, Dr. Sam Haning mengatakan hal ini di Kupang, Senin, 1 Desember 2025. Meski demikian Samuel kurang setuju jika kasus pidana ini diselesaikan dengan cara damai. Harusnya kata dia, proses hukum tetap berjalan untuk memberi efek jerah kepada pelaku.
Samuel mengatakan, pola penyelesaian itu tak mendidik. Proses hukum kata dia semata untuk melindungi guru sekaligus menjaga martabatnya.
“Kalau guru dianiaya saya merasa sangat terganggu. Saya menghargai langkah damai itu meski saya kecewa,” katanya.
Samuel mengatakan, kasus pemukulan guru oleh seorang siswa SMAN I Kupang boleh menjadi cermin penanganan kasus. Pelaku yang menendang guru itu diskors beberapa minggu setelah itu mereka berdamai.
Karena itu kata dia kasus yang terjadi di Sumba Timur ini patut menggunakan pola ini. Jika pelaku bukan siswa, maka proses dia secara hukum. Setelah itu bila ruang untuk berdamai ada, silakan berdamai.
Ke depan kata Sam, martabat guru patut dijaga. Negara harus melindungi karena peran guru, anak-anak tumbuh menjadi lebih baik. Guru sekarang seperti kurang nyaman dalam mendidik anak-anak. Samuel mengatakan, jika saja guru memilih tak mendidik anak-anak maka seperti apa nasib negeri ini ke depan.
Ke depan kata Sam, PGRI memliki Program Jaga Guru. “Tahun lalu kita sudah laksanakan dengan Kejati NTT. Maka saya sangat harapkan marwah guru tetap dijaga. Wibawanya harus dijaga,” katanya.
Ia juga menyebut sebuah kasus di Pulau Sabu beberapa waktu lalu. Seorang guru di SD Gelanalalu, Kecamatan Sawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua menempeleng seorang anak di kelas karena sudah berulangkali diingatkan untuk memangkas rambutnya, namun tak dilakukan. Ketika sang guru menempelengnya, pihak keluarga melaporkan ke aparat kepolisian setempat.
Ia mengatakan membina itu bukan membinasakan. Kalo murid tak mau dibina oleh guru, silakan bekin sekolah sendiri. Mengajar, kasih ujian dan kasih naik kelas. Membina murid bukan aniaya. Misalnya menempeleng atau mencubit anak satu atau dua kali.
Sebab guru bukan sekadar profesi tapi dia juga sebagai seorang pendidik yang punya tanggung jawab moril dalam membina anak-anak.
Sebelumnya diberitakan, Ludguirda Djami yang akrab disapa Nona, adalah guru PPPK yang diangkat sejak tahun 2022 dan ditempatkan di SD Inpres Praikalla, Desa Praikalla, Kecamatan Mahu, Kabupaten Sumba Timur. Ia dipukul di tengah jalan saat hendak mengikuti Hari Guru dan HUT ke-80 PGRI tahun 2025. (pol)









