Lintas Flobamorata
Home / Lintas Flobamorata / Pelabuhan Feri di Waijarang, Lembata Belum Beroperasi Bawa Dampak Krisis Logistik

Pelabuhan Feri di Waijarang, Lembata Belum Beroperasi Bawa Dampak Krisis Logistik

Perwakilan AXEL dan Formalen menyerahkan surat penegasan sikap ke Pemerintah Kabupaten Lembata terkait kapal feri yang gagal sandar di Pelabuhan Waijarang. Penyerahan dilakukan di Kantor Bupati Lembata, Rabu, 15 April 2026

KELANA-NTT.COM, LEWOLEBA — Belum beroperasinya Pelabuhan Feri Waijarang membawa dampak kian meningkatnya krisis logistik di Kabupaten Lembata. Distribusi barang semakin tersendat sehingga memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.

Dengan kondisi ini muncul wacana menghadirkan kapal roro KM Egon. Dorongan itu menguat setelah Aliansi Expedisi Lembata (AXEL) dan Forum Parlemen Jalanan (Formalen) resmi melayangkan surat kepada Pemerintah Kabupaten Lembata, Rabu, 15 April 2026.

Surat yang baru disampaikan ini mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret, termasuk membuka komunikasi resmi dengan PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) untuk mengkaji pembukaan rute baru Surabaya–Maumere–Lembata–Kupang menggunakan KM Egon.

“Situasi sekarang tidak bisa ditunda. Ini menyangkut harga barang dan kehidupan masyarakat,” ujar Koordinator Umum Formalen, Ciprianus Pito Lerek.

Di lapangan, tekanan ekonomi mulai dirasakan. Tarif pengiriman kontainer dilaporkan melonjak dari Rp13,5 juta menjadi Rp16 juta per unit. Kenaikan ini berdampak langsung pada harga barang di pasar, mulai dari kebutuhan pokok hingga material bangunan.

Umat Kuasi Paroki Sahan, TTS Kompak Membangun Iman dan Persaudaraan

Ketergantungan terhadap layanan PT ASDP Indonesia Feri menjadi sorotan. Hingga kini, perbaikan Pelabuhan Feri Waijarang belum menunjukkan kejelasan waktu, sementara uji coba sandar kapal dengan sistem ramp door pada 9 April lalu gagal terlaksana.

Dalam situasi buntu tersebut, KM Egon dinilai sebagai opsi realistis. Kapal roro ini memiliki fasilitas side ramp door yang memungkinkan bongkar muat kendaraan langsung di pelabuhan yang belum memiliki infrastruktur Feri memadai, seperti Pelabuhan Lewoleba.

Anggota Formalen, Broin Tolok, menegaskan bahwa opsi ini bukan sekadar wacana, melainkan hasil komunikasi awal yang sudah membuka peluang konkret.

“Kami tidak bicara tanpa dasar. Komunikasi dengan pihak PELNI di Lembata sudah dilakukan, dan ada sinyal positif. Tinggal pemerintah daerah menyurati pusat agar ini bisa dikaji secara resmi,” kata Broin.

Menurut dia, langkah cepat pemerintah sangat menentukan karena persoalan logistik sudah berdampak langsung pada masyarakat luas.

Wagub NTT Tinjau SPPG Mutiara di Watamelang, Alor, Berdayakan Masyarakat Lokal

“Kalau ini dibiarkan, harga barang akan terus naik. KM Egon bisa jadi solusi jangka pendek sekaligus jalan keluar strategis,” ujarnya.

Rencana menghadirkan KM Egon mendapat respons positif dari masyarakat. Pelaku usaha ekspedisi melihatnya sebagai peluang untuk menekan biaya operasional, sementara warga berharap harga barang bisa kembali stabil.

“Kalau akses terbuka, pasti harga ikut turun. Ini yang masyarakat tunggu,” ujar seorang pedagang di Lewoleba.

Sebagian warga juga menilai langkah ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu operator transportasi laut, sekaligus membuka opsi cadangan jika terjadi gangguan di masa depan.

Meski peluang terbuka, realisasi rencana ini sepenuhnya bergantung pada langkah pemerintah daerah. Pihak PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) sebelumnya telah memberi sinyal kesiapan untuk mengkaji rute baru, dengan syarat adanya permintaan resmi dari pemerintah.

Wagub Asadoma Tekankan Ikatan Keluarga Besar Lamaholot sebagai Rumah Besar di NTT

AXEL dan Formalen memberi tenggat waktu satu minggu bagi pemerintah untuk merespons. Jika tidak, aksi massa lanjutan disebut akan menjadi langkah berikutnya.

Di tengah tekanan harga dan terbatasnya akses distribusi, publik Lembata kini menaruh harapan pada satu opsi yang mulai terlihat nyata.

Namun, apakah KM Egon benar-benar akan menjadi jalan keluar, atau sekadar wacana yang kembali tertunda, semuanya bergantung pada keputusan yang diambil hari-hari selanjutnya. (pol)