Lintas Flobamorata
Home / Lintas Flobamorata / Uskup Agung Kupang Ajak Umat Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua Hidup dalam Damai

Uskup Agung Kupang Ajak Umat Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua Hidup dalam Damai

Uskup Agung Kupang, Hiro Pakaenoni bersama umat di gereja St. Fransiskus Dari Assisi,Kolhua, Selasa, 22 September 2026

KELANA-NTT.COM, KUPANG – Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, memimpin rekoleksi bersama umat Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kupang, Selasa, 22 September 2026 sore.

Dengan tema,  “Yesus yang Penuh Kuasa Mengutus Kita Hidup dalam Damai,” Uskup Hiro mengajak umat meneladani spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi yang memandang alam dan manusia sebagai satu kesatuan.

Menurutnya, semangat persahabatan dengan alam dan lingkungan menjadi kunci hidup berdamai.

“Di tahun yubileum Santo Fransiskus ini dan menjelang pesta pelindung paroki pada 4 Oktober  2026 mendatang, mari kita jaga dan bangun paroki ini dalam semangat kebersamaan,” pesan Uskup Hiro.

Ia juga mengatakan, Santo Fransiskus dari Assisi dikenal sebagai pribadi yang damai. Ia menghayati Injil dengan kesederhanaan, persaudaraan, pelayanan dan perhatian pada orang miskin.

Adri Ceme: Terima Kasih kepada Seluruh Umat

Sesuai tema Bulan Kitab Suci Nasional, Mengenal Wajah Yesus yang Penuh Kuasa yang diambil dari Injil Matius, Uskup Hiro juga mengatakan dunia sering memahami kekuasaan sebagai kemampuan untuk menguasai orang lain.

Sesungguhnya kata Uskup Hiro, kuasa Yesus adalah kuasa akan kasih. Yesus berkuasa untuk menyembuhkan, mengampuni, menguatkan, membebaskan dan memaafkan. Karena itu, semakin sering umat mengikuti Yesus, harusnya semakin juga hadir kuasa kasih dalam hidup di lingkungan gereja dan masyarakat.

Suasana rekoleksi di Gereja St Fransiskus dari Assisi, Kolhua

Rekoleksi ini dihadiri 419 calon penerima Sakramen Krisma beserta orang tua dan umat. Hadir, Pastor Paroki  RD  Longginus Bone, Pastor Vikaris RD Tony Kobesi, Ketua Dewan Pastoral Paroki Adri Ceme, Penasihat DPP Anton Bele, Yudith Salassa-Bele, Vian Watu serta  tokoh umat lain seperti Izak Nuka, John Mau dan Ferdi Sudirman. Hadir sekitar seribu lebih umat memadati gereja yang terbilang megah di Kota Kupang ini.

Suasana menjadi semakin istimewa dengan testimoni dari Suster Maria Pia, OHFS (Konggregasi Suster-suster Fransiskan), yang berbagi pengalaman hidup sebagai pengikut Santo Fransiskus dari Assisi.

Suster Maria mengatakan,  pengalaman hidup membiara di Filipina hingga di Kupang mengajarkan banyak hal terutama persahabatan sejati, sikap kekeluargaan, kejujuran dan hidup yang saling membagi pengalaman.

Berdiri Melayani Ratusan Peserta Krisma, Keteladanan Mgr. Hironimus Pakaenoni Menyentuh Umat

Setiap tanggal  17 Semptember Suster  Maria mengatakan, mereka selalu merayakan Stigmata Santo Fransiskus yang menerima lima luka Yesus. Setiap tahun juga mereka merayakan Hari Transitus, yakni momentum untuk mengenang kembali kehidupan santu ini.

“Kami peringati tiap tanggal  3 Oktober. Bagaimana Santu Fransiskus di hari-hari akhir sebelum meninggal. Ia merangkul teman-temannya dan merayakan pula perjamuan terakhir. Persis seperti Yesus lakukan sebelum wafat di kayu salib,” katanya.

Setiap tahun pula ordo ini kata dia,  merayakan Hari Greco di mana Santu Fransiskus dari Assisi selalu mengisahkan kembali tentang kelahiran Yesus di kandang Bethlehem. (pol)

 

Uskup Agung Kupang: Bersyukur Tahun Yubileum dan HUT Paroki Assisi Bertepatan