KELANA-NTT.COM, KUPANG — Mengenakan baju kemeja lengan panjang dengan motif kotak-kotak dan celana panjang warna krem, lelaki ini bicara dengan sangat santun. Kata-kata yang terucap dari bibirnya pun pilihan yang bernas dan bersahaja. Terukur.
Dialah Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kupang, Jehuda Bill Jonas. Ia menjalankan tugas mulia ini sejak 25 Maret 2026 atau baru sebulan lebih tinggal di Kota Kasih ini.
Jonas, demikian panggilannya berdarah NTT. Ayahnya, Jonas Zakarias asal Pulau Rote dan sang ibu Ana Zakarias asal Jawa. Sebagai turunan dari Pulau Rote, Jonas merasa sungguh wellcome saat hari pertama berada di Kupang. Bahkan hingga sebulan ini ia sungguh merasakan suasana kondusif itu bersama stafnya di kantor.
Ketika ditemui KELANA-NTT.COM di kantornya Jalan Palapa Kupang, Kamis, 30 April 2026 sore, Jonas menestimoni sebuah pengalaman batin yang sungguh membuatnya “teduh” di kampung halamannya ini.
Pada hari pertama bertugas, ia berjalan kaki dari rumah dinas di Oeba menyusuri Straat A, belok tanjakan Jalan Gunung Fatuleu, naik SMPN I Kupang dan selanjutnya menyisir SMAN I, Gua Lourdes dan sejengkal lagi menuju kantor Pajak Pratama Kupang yang terletak di Jalan Palapa, Kupang.
Yang membuatnya tersentuh hingga kedalaman sukma, yakni mulai dari Oeba di pagi hari yang sejuk itu beberapa orang menyalaminya dengan kata, Selamat Pagi, Bapak. Ada sekitar empat kali ucapan dari orang yang berbeda terdengar olehnya. Terasa sejuk nian.
Pertama, seorang ibu, dua orang bapak dan beberapa anak sekolah dasar yang hendak menuju ke sekolah. Pada perjumpaan dengan orang ketiga, lelaki kelahiran Jakarta 45 tahun lalu itu mendahului dengan menyapa seorang bapak.
” Selamat Pagi, Pak,” ketika frasa ini ia ucapkan, ia merasa telah resmi menjadi orang NTT. Ia resmi menjadi warga Kota Kasih. Jonas merasa bangga bertugas di NTT. Bangga dengan orang-orang di kota yang masih sungguh permisif ini.
Lelaki ganteng ini mengatakan, sebagai anak Jakarta, tata nilai seperti ini jarang ia temukan di Jakarta, kota yang membesarkannya. Di Jakarta atau mungkin kota-kota besar lain di Indonesia, “karakteristik” seperti ini jarang atau sudah tak ada lagi karena warga memang selalu punya kesibukan. Warga selalu diburu dengan waktu. Pengalaman di Kupang ini bukan berarti warga tidak sibuk. Mereka menyalami sesamanya ketika dalam kesibukan. Mereka tengah menuju ke tempat kerja.
Saat di kota orangtuanya, Jonas menemukan kekhasan seperti ini sebagai indikator pendidikan karakteristik masih kuat tertanam. Ia merasakan bahwa Kota Kasih ini bukan sekadar slogan atau jargon yang didengung-dengungkan. Kasih itu menyata dalam keseharian. Kasih itu menjadi bagian tak terpisahkan dari realitas kehidupan yang keras dan penuh dengan kompetisi ini.
Putra bungsu dari empat bersaudara ini menyampaikan terima kasih kepada warga di kota ini. Jonas berharap hal yang positif patut dilestarikan. Patut dijaga agar membawa berkat dan kepenuhan jiwa dalam hidup bermasyarakat.
Dalam sejarah, Jonas menjadi orang pertama berdarah NTT yang memimpin institusi yang meliputi wilayah Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Alor ini.
Sukses selalu untuk tugas-tugas ini, Pak Jonas. Tuhan memberkati selalu. (Paul Burin)









