KELANA-NTT.COM, JAKARTA — Pemanfaatan bahasa ibu terbukti efektif meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa sekolah dasar di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hal ini disampaikan Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, dalam Gelar Wicara Hari Bahasa Ibu Internasional 2026 bertema, “Peran Generasi Muda dalam Membentuk Masa Depan Pendidikan Multibahasa” yang digelar Badan Bahasa Kemendikdasmen di Jakarta, Rabu, 18 Februari 2026.
Hasil studi Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), kemitraan pendidikan Indonesia dan Australia, menunjukkan bahwa pendekatan transisi bahasa menurunkan kesenjangan kemampuan membaca antara murid penutur bahasa ibu dan penutur Bahasa Indonesia dari delapan persen menjadi empat persen. Studi tersebut juga memerlihatkan peningkatan pemahaman materi, kepercayaan diri, serta partisipasi aktif siswa.
Kontribusi penggunaan bahasa ibu ini turut mendorong kenaikan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan Sumba Timur hingga mencapai 60,11 dengan status “tuntas muda” pada 2025.

Bupati Sumba Timur dan Kepala Badan Pengenbangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen berfoto bersama dengan para narasumber, Direktur UNESCO Indonesa dan para pejabat di lingkup Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Bupati Umbu menjelaskan bahwa sebagian besar anak di Sumba Timur bertutur menggunakan bahasa daerah, sehingga ketika memasuki sekolah dasar mereka belum sepenuhnya memahami Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa pengantar pembelajaran. Ketidaksesuaian tersebut menyebabkan hambatan dalam memahami pelajaran pada masa awal sekolah dan berdampak pada rendahnya kemampuan literasi.
Ketidaknyamanan dalam proses belajar juga memicu sebagian anak enggan bersekolah, yang tercermin pada masih tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) sebanyak 6.409 anak.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pembelajaran dimulai dengan bahasa yang paling dipahami anak, sebelum guru secara bertahap mengenalkan Bahasa Indonesia melalui metode transisi bahasa.
“Pendekatan bahasa daerah tidak hanya memerkuat kemampuan membaca, tetapi juga membuat anak lebih nyaman belajar. Mereka lebih percaya diri, lebih berani berinteraksi, dan lebih siap menerima materi berikutnya,” kata Umbu.
Program pemanfaatan bahasa ibu telah diterapkan sejak 2017 melalui kerja sama Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Program INOVASI, dan Yayasan Sulinama. Guru-guru mendapatkan pelatihan untuk menerapkan metode transisi bahasa agar pembelajaran sesuai dengan kemampuan awal siswa.

. Bupati Sumba Timur foto bersama dengan para peserta kegiatan HUT Bahasa Ibu Internasional
Umbu menambahkan, dampak positif program terlihat tidak hanya pada capaian akademik, tetapi juga pada perkembangan sosial dan emosional. “Anak menjadi lebih berani bertanya, lebih aktif berdiskusi, dan merasa diterima di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Penggunaan bahasa ibu juga membantu menurunkan risiko tinggal kelas dan putus sekolah, karena anak yang lebih cepat menguasai kemampuan membaca cenderung menyelesaikan pendidikan dasar tepat waktu. Program ini turut memerkuat identitas budaya dan mendukung pelestarian bahasa daerah.
Untuk memerluas manfaat program, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur meluncurkan Gerakan Literasi Terpadu (Geliat) yang melibatkan sekolah, masyarakat, dan pemerintah daerah. Pemerintah juga meningkatkan alokasi anggaran pendidikan agar pendekatan transisi bahasa dapat diimplementasikan secara konsisten di seluruh sekolah dasar.
Inisiatif ini sejalan dengan visi pembangunan Sumba Timur Harmonis, Unggul, Mandiri, Berbudaya, Adil (HUMBA), Maju dan Berkelanjutan 2025–2030 yang menempatkan literasi dasar sebagai fondasi pembangunan manusia. Kebijakan ini juga selaras dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menegaskan peran pemerintah daerah dalam mengelola pendidikan dasar.

Bupati Sumba Timur saat tampil berbicara dalam forum HUT Bahasa Ibu Internasional di Jakarta bersama moderator Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, mengapresiasi para pendidik yang telah memanfaatkan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pertama di kelas awal. Ia juga memuji strategi Kabupaten Sumba Timur dalam mengintegrasikan bahasa ibu sebagai bahasa transisi untuk meningkatkan keterampilan membaca.
“Kehadiran Bupati Sumba Timur menjadi salah satu representasi praktik baik agar pemerintah daerah lain juga menunjukkan komitmen nyata dalam perlindungan bahasa daerah,” ujarnya.
Provincial Manager INOVASI NTT, Hironimus Sugi, menyampaikan bahwa pihaknya menindaklanjuti rekomendasi studi ACDP #040 tahun 2016 yang menelaah tantangan dan peluang penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar atau transisi di kelas awal sebelum beralih ke Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kurikulum nasional.
“Karena itu, kami mengujicobakan pendekatan ini di dua kabupaten, yakni Sumba Timur dan Sumba Barat Daya, pada fase pertama tahun 2018–2019. Hasil baseline menunjukkan bahwa murid penutur bahasa ibu dapat belajar satu tahun lebih cepat,” jelasnya.
Berdasarkan hasil tersebut, INOVASI NTT mengembangkan pilot di Nagekeo dengan melibatkan 10 SD dan 10 PAUD untuk menguji percepatan ketertinggalan. Salah satu hasilnya ditampilkan oleh Maria Ugha Keo dalam dialog bersama Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Di Nagekeo, INOVASI juga bekerja sama dengan STKIP Citra Bakti Bajawa mengembangkan kurikulum transisi bahasa untuk mahasiswa PGSD dan PG-PAUD.
“Semoga seluruh upaya ini meningkatkan hasil belajar semua siswa, apa pun latar belakang bahasanya,” ujarnya.
Keberhasilan Sumba Timur kini menjadi salah satu praktik baik nasional dalam penggunaan bahasa ibu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas awal.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk melanjutkan dan memerkuat program ini sebagai investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas generasi muda. (*/pol)









