Catatan Dr. Yohanes Bernando Seran, S.H. M. Hum (Sesama Alumni UGM, Menetap di Malaka, Perbatasan dengan RDTL)
KELANA-NTT.COM, KUPANG — Sepenggal kalimat di atas adalah kata-kata yang sempat disampaikan Bapak Joko Widodo ( Presiden ke-7 RI) saat ditanya wartawan usai tidak lagi menjabat sebagai presiden. Saya sangat tersentuh dengan kata-kata tersebut dan membawa saya pada keputusan untuk melabuhkan tokoh idola saya di bidang politik untuk figur Joko Widodo. Sebelumnya saya mengidolakan Presiden Soekarno.
Adapun makna substantif dari kalimat di atas dapat diuraikan sebagai berikut. Pertama bahwa sebagai sesama alumni UGM kita tetap berpegang pada Panca Prasetia Alumni UGM, yaitu salah satunya bekerja secara jujur, berintegritas dan bertanggung jawab. Bahwa hal itu tampak menyata dalam diri Bapak Joko Widodo.
Beliau mewujudkannya dengan mengubah program pembangunan Jawa Sentris menjadi berorientasi pada Heavy Indonesia Timur spesialnya NTT. Kecintaannya pada NTT mewujud menyata dalam pelaksanaan pembangunan di NTT secara spektakuler. Beliau sadar betul orang desa harus dibangun dan diberi sentuhan pembangunan sebagaimana beliau menghayati dirinya berasal dari desa.
Kedua: bahwa beliau sangat rendah hati dan menganggap jabatan itu tidaklah mengubah pribadinya yang sudah dibesarkan di Kota Solo. Dengan kembali ke Solo sebagai rakyat biasa Bapak Joko Widodo mengikrarkan spirit fisik boleh jauh dari rantau, tetapi hati kecil selalu mengingat suasana awal yang membesarkannya, yaitu desa.
Beliau mengajak semua pemimpin untuk membangun dari desa dan membangun dari pinggiran. Spirit periferal ini sebetulnya fondasi dari pembangunan sesungguhnya.

Penulis bersama Bapak Jokowi saat kunjungan ke Malaka, beberapa tahun lalu.
Ketiga: kata-kata bahwa beliau akan kembali ke Solo sebagai rakyat biasa sesungguhnya merefleksikan suatu fenomena filosofis bahwa menjadi rakyat biasa itu adalah menjadi warga negara yang sesungguhnya. Tidak membedakan dirinya dengan orang lain dan menganggap semua manusia sama di hadapan Tuhan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan orang lain.
Filosofi ini saya temukan dalam peribahasa orang Tetun Malaka, yaitu ITA EMA MESA OAN NAIN NAIN DADAR ITA EMA MESA OAN ATA ATA DADAR. ITA EMA MESA TUR BITI ULUN ILUN DADAR ITA EMA MESA TUR LABIS LETEN LETEN DADAR SE E SINA LOU SE LAKA LIY SE E. Artinya, kita ditakdirkan sama dalam segala hal. Kita punya hak yang sama juga kewajiban yang sama untuk kemanusiaan.
Keempat: bahwa sebagaimana kata-kata beliau selaras dengan perbuatannya. Sewaktu berkunjung ke Malaka memantau PLBN Motamasin tahun 2016 beliau tampak sederhana dan tidak arogan sampai saat ini. Sewaktu menerima kain adat Malaka yang diletakkan di bahunya oleh Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH., beliau menyampaikan kepada bupati bahwa kita bangun PLBN agar rakyat di perbatasan RDTL punya harga diri dalam hidup bernegara.
Selamat datang Bapak Joko Widodo di NTT. Kami selalu mengenang kebaikanmu untuk NTT dan selalu mendukung langkah politikmu ke depan untuk membangun Indonesia dari desa dari pinggiran.









