KELANA-NTT COM, BETUN — MENTARI pagi membela kabut tipis yang menggantung di langit Kota Betun, Ibukota Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 15 November 2025. Pada medio November 2025 itu, serasa sungguh sejuk. Udara pagi di kota yang berhadapan langsung dengan Benua Australia dan berbatasan dengan Negara Timor Leste, itu serasa dingin hingga menusuk sumsum.
Meski mayoritas warga kota itu belum beraktivitas, keramaian di Pasar Otamasin, sebuah pasar rakyat di jantung kota itu menarik perhatian. Ratusan warga yang datang dari kota maupun desa-desa menyemutinya. Warga berdesak-desakkan kala memasuki area pasar ini.

Pasar Otamasin Betun- Kabupaten Malaka
Saya berkesempatan jalan kaki dari tempat kos Ade Ida dan Ade Robby Ndun, sekitar seratus meter dari area pasar. Tak jauh. Awalnya, saya ingin berjalan kaki, sekadar untuk olahraga. Beberapa hari itu, saya dan keluarga menghadiri acara adat dan pemberkatan nikah adik Odi Nine, putra kedua Bapa Mundus Nine dan Mama Eta Naikofi. Ade Odi memersunting belahan jiwanya dari daerah itu. Acara adat itu identik dengan pesta, makan daging. Karena itu saya ingin cari keringat, bakar lemak dengan berjalan kaki.
Saya melewati pasar ini. Dari semua ketertarikan itu karena harga kebutuhan sehari-hari yang relatif murah bila dibanding dengan jualan di Kota Kupang yang terus menjulang, saya tertarik pada beberapa orang ibu paruh baya, ada yang usianya cukup lanjut.Tapi, semangatnya masih membara. Mereka duduk berdampingan. Di samping mereka, ada tungku segitiga terbuat dari batu, api yang sedang membara, ada tacu dan tempat lain yang datar untuk memanggang sesuatu. Bahan itu mereka pipihkan di atas ‘babilak” (piring ceper) yang terbuat dari tanah liat.
Mereka juga menaburkan kacang hijau rebus di atasnya sebagai “topping” lalu dipanggang dengan bara api. Saya cukup mengikuti proses pembuatan Aka Bilan, makanan khas dari Malaka ini.
Bahan baku Aka Bilan ini dari batang pohon Sagu muda yang sudah dihaluskan, dicampur dengan kelapa parut, sedikit garam dan rempah-rempah lain untuk memberi tekstur olahan menjadi menarik sehingga dapat dibeli oleh konsumen.

Seorang Ibu yang Sedang Memanggang Aka Bilan
Mereka menjualnya dengan harga yang murah per lempeng seperti kerupuk ubi kayu namun ukurannnya lebih kecil. Mama-mama kita ini menjual Aka Bilan yang sudah dibakar/panggang dengan harga Rp 5.000 per lima lempeng. Satu lempeng dengan Rp 1.000.
Di tengah pasar itu saya mencoba untuk menikmati produk rumahan ini. Lumayan enak. Teksturnya lembut dan menyisakan aroma kelapa dan bawang yang sungguh menggoda. Saya membeli beberapa lempeng untuk bawa pulang ke rumah Ade Robby dan Ade Ida.
Saya sungguh menikmati panganan Aka Bilan dari Malaka ini. Di belahan lain di Tanah Timor Lelebo ini saya juga menemukan makanan khas ini dengan nama yang berbeda. Pada Suku Dawan (TTU, TTS dan mungkin Kupang) biasa disebut Put’laka. Dari daerah lain tentu punya nama yang khas tentang produk ini.
Sebuah tulisan di internet menyebut setiap pohon sagu yang matang dapat menghasilkan pati sekitar 400 kilogram. Sagu juga telah menjadi bahan baku industri makan yang diolah menjadi biskuit, mie dan roti kerupuk dengan manfaat ekonomi yang tak kecil.
Sagu mengandung sedikit protein, sedikit vitamin, sedikit mineral dan bebas gula. Di belahan Indonesia Timur seperti di Papua dan Ambon, teristimewa warga di pedalaman, sagu menjadi menu pokok. Karbohidratnya tinggi. Membuat kenyang.
Saya sungguh memberi apresiasi untuk mama-mama kita di Pasar Betun ini. Mereka dengan tabah dan sabar menunggu para pembeli di tempat jualan yang space-nya terbatas. Mereka adalah mama-mama kita yang tangguh, kuat dan penuh dengan optimisme hidup. Hanya mama-mama yang bisa betah, duduk dengan durasi waktu yang relatif lama. (Paul Burin)









