KELANA-NTT.COM, MAUMERE — Anggota DPR RI, Melchias Markus Mekeng mengunjungi Sanggar Lepo Lorun beralamat Jalan Soverdi, Desa Nita, sekitar 10 kilometer dari Kota Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 12 Januari 2026.
Dalam laman Facebook-nya, Markus Mekeng bertemu langsung dengan pemilik sanggar ini, Alfonsa Raga Horeng. Ia melakukan dialog dengan perempuan yang sudah mengunjungi 30-an negara di dunia ini untuk memerkenalkan tenunan dengan corak khas dari Nian Tanah Sikka ini.
Sejak berdiri pada 12 Mei 2004, Tenun Ikat Lepo Lorun ini menjadi pusat pelestarian budaya tenun ikat tradisional Sikka,Flores, NTT.
Sanggar Lepo Lorun ini menjadi tempat pemberdayaan perempuan penenun, dan edukasi budaya bagi masyarakat lokal maupun wisatawan, dengan melestarikan warisan nenek moyang dan mengangkat ekonomi lokal melalui tenun ikat alami yang dibuat dengan kearifan lokal.
Melalui pembangunan kelas sekolah tenun ini, “Saya berharap menjadi tempat ruang belajar, pewarisan nilai dan penguatan identitas budaya daerah.”

Ibu-ibu tengah menenun di Sanggar Lepo Lorun
Wakil rakyat dari Partai Golkar yang terpilih dari Dapil I Flores dan Alor ini berharap proses pembangunan gedung ini berjalan dengan lancar, aman dan penuh berkat.
“Kita berdoa agar generasi muda memiliki kemauan, kecintaan, serta kebanggaan untuk belajar, menjaga dan memertahankan mahakarya peradaban Nusa Tenggara Timur agar tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.
Sedangkan Alfonsa Raga Horeng menyampaikan terima kasih kepada wakil rakyat yang telah mengunjungi sanggar ini. ” Bapa Melky, kami senang karena bapa punya kepedulian pada pelestarian nilai-nilai budaya daerah ini,” katanya.
Alfonsa mengatakan, dengan hadirnya sekolah tenun ini anak-anak muda dapat memelajari cara menenun langsung dari praktisi bukan dari ibu atau neneknya. Dengan demikian dapat menjawab kebutuhan pasar tenun secara lokal, nasional maupun internasional.
Alfonsa mengatakan bahwa ini bukan kerajinan semata, namun mahakarya peradaban yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Sejumlah motif yang dikembangkan, yakni bintang kejora, naga lalan dan kobar. Terdapat pula 54 tenun Sikka yang memiliki Hak Hukum Indikasi Geografis. (pol)









