soft news
Home / soft news / Petikan Ukulele Kala Senja Tiba

Petikan Ukulele Kala Senja Tiba

Suami Ir. Joseph de Rozario, anak Happy de Rozario dan menantu Yulia Lestari Nggili serta cucu-cucu sebelum pemakaman mendiang.

KELANA NTT.COM, KUPANG–SENJA itu pergi dengan damai. Ia pergi tanpa kata-kata yang menyapa. Ia hilang dalam balutan riuh warga Kolhua.

Entah kapan. Waktunya sudah lampau. Dua atau tiga kali melewati lorong di Blok V Perumahan BTN Kolhua, Kupang, saya melihat dua sosok yang sudah renta itu duduk di beranda rumah.

Keduanya bukan sekadar duduk sebagai syarat formal suami dan istri. Mereka dekat secara jiwa, secara batin. Hati mereka tak berjauhan. Jauh di kedalaman sukma yang membentuk titian perjalanan hidup berkeluarga.

Di tangan sang oma Dra. Magdalena Adolfina de Rozario- Karels, itu sebuah ukulele atau gitar mini ia pegang. Mama Magdalena yang memetik ukulele dengan perasaan. Terdengarlah alunan lagu Bengawan Solo dari bibir keduanya. Bersama sang suami, Ir. Joseph de Rozario menyanyikan lagu karya Gesang ini. Dan, lagu bergenre keroncong itu sungguh menyapa telinga dengan manja.

Beberapa kali saya menyaksikan suasana yang romantik itu. Mungkin keluarga lain di lingkungan kami punya testimoni tentang pasangan suami istri ini. Testimoni tentang kebiasaan nyanyi bersama atau melihat keduanya  menghijaukan  halaman rumah dengan menanam berbagai tanaman umur panjang. Ada pohon nangka, mangga dan pisang yang tak pernah henti berproduksi.

Mutiara-mutiara di Jurang Kasih

Keduanya menanam dengan tekun di halaman yang lapang,  persis di depan rumah meski bukan lahannya. Itu tanah milik developer. Melewati rumah itu serasa sejuk dan menenteramkan hati. Pesannya sungguh bermakna ekologis.

Oma Leni dengan ukulelenya

Pada tanggal 1 Januari 2026 kemarin, saat tanggungan koor lansia (lanjut usia) di Gereja Kaisarea, Kolhua, Ibu Magdalena ini berada di kursi nomor dua dari depan altar gereja. Ia mengiring para lansia dengan ukulele kecintaannya itu.

Sebuah pemandangan yang tak lasim. Di usia 75 tahun Ibu Leni, begitu ia biasa disapa tetap aktif ke gereja. Aktif berdoa dan aktif mengikuti koor.

Perempuan yang dulunya seorang dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), Jurusan Biologi ini mencintai musik selamanya. Itulah mengapa hatinya selalu berdetak, berdegup.

Mendengarkan atau memainkan musik adalah cara dia untuk mengabaikan persoalan-persoalan yang dihadapi tiap orang. Ia menjadikan musik sebagai sahabat yang mampu membawanya keluar dari rasa rutin yang mungkin saja menjenuhkan hati. Yang ada adalah rasa syukur atas Penyelenggaraan Ilahi ini.

Menikmati Aka Bilan yang Gurih di Pasar Betun…

Mama Leni meyakini bahwa  bermusik atau  bernyanyi itu menenteramkan jiwa.  Musik  itu tak menipu. Ia lahir tanpa paksaan, tanpa modifikasi dan tanpa rekayasa. Musik itu hadir dan suci. Karena itu ekspresi yang ditunjukkan pun sesungguhnya cerminan dari hati yang bersih atau hati yang menyapa dengan tulus.

Sepotong kisah di atas sedikit menggambarkan siapa sesungguhnya Mama Leni. Dan, kisah itu sungguh mengalir jauh entah dari siapa pun ketika mendengar kabar tentang kematiannya di Rumah Sakit (RS) Leona pada hari Senin, 2 Februari 2026 siang.

Saat memberi sambutan pada upacara pemakaman Mama Leni, Rabu, 4 Februari 2026 siang, Dekan FKIP Undana, Prof. Dr. Melkisedek Taneo, M.Si., menggambarkan tentang kepribadian seniornya ini saat masih aktif sebagai dosen. Mendiang itu tak hanya mengajar, tetapi memberi nilai-nilai kehidupan kepada mahasiswanya.

Saat menjadi Dosen di Undana

Ia memotivasi dan memberi spirit tentang hidup yang harus diperjuangkan. Untuk memerjuangkan sesuatu harus disiplin dan terus belajar tiada henti.

“Mendiang sangat disiplin dalam tugas dan karyanya. Kami yang yunior kadang kurang disiplin,” kata Prof. Taneo.

Peringatan Usman Husin tentang Bencana Alam di Gunung Mutis

Mewakili keluarga, Jack Wabang juga menyampaikan testimoni tentang keluarga ini. Jack yang juga Ketua RW 06 Perumahan BTN Kolhua, ini mengatakan, keluarga ini sungguh memberi teladan dalam banyak hal. Keteladanan dalam merawat alam meski cuma “sepotong ana” di depan rumah itu. Keduanya aktif dalam kerja bakti. Juga aktif di Rayon Firdaus dan Gereja Kaisarea.

Beberapa bulan lalu saat warga RT ini membersihkan jalan, kata Jack, secara spontan Mama Leni menyediakan bubur kacang hijau, kopi dan teh. Ia menaruhnya di tepi jalan untuk memudahkan warga menikmatinya. Suami istri ini tak henti menyilakan warga yang bergerombol pada satu dua titik.

Jack Wabang menyampaikan terima kasih untuk semua kebaikan itu. “Sekaligus permohonan maaf dari keluarga jika ada kata atau sikap yang tak berkenan dari mendiang kepada bapa, ibu, saudara-saudari sekalian,” ujar lelaki bersuara bariton ini.

Ibadah pemakaman yang dimulai pukul 12.00 Wita ini dipimpin oleh Pendeta Aleida Y. Salean, S.Th., M.Hum.

Dalam kothbahnya, Pendeta Aleida, mengetengahkan tentang sikap hidup mendiang yang setia dan selalu hadir di gereja meski dalam situasi yang sulit.

Saudara kandung mediang Oma Leni

Dalam ilustrasi renungan itu Pendeta Aleida, mengatakan, hidup ini seperti berdagang. Tuhan memberi modal hidup dan talenta lainnya kepada tiap orang untuk menjalaninya. Silakan dagangkan sesuai dengan ajaran-Nya.

Kelak tiap orang harus kembali untuk melaporkan kepada sang pemilik modal, yakni Tuhan sebagai bentuk akuntabilitas. Pertanggungjawaban secara iman kepada yang memberi hidup. Mama Leni sudah menjalani hidup dan kini ia harus kembali kepada Bapa di Surga.

Dua malam sebelumnya Pendeta Stef Pandie, S.Th., dan Calon Vikaris (Cavik) Putri Gracendinsia Riwu, S.Th., dalam kothbahnya mengonfirmasi keteladanan yang ditunjukkan mendiang.

Sejak hari Senin hingga Rabu, kemarin, umat dan warga sekitarnya memenuhi tenda itu sebagai tanda turut berbela rasa atas kepulangan Mama Leni. Damai di Surga yang abadi, Mama Leni.

Moga suami Bapa Joseph de Rozario dan anak semata wayang, Pendeta Happy de Rozario, S.Th., menantu Julia Lestari Nggili dan cucu-cucu tabah selalu dalam menghadapi realita ini. (paul burin)