soft news
Home / soft news / Mutiara-mutiara di Jurang Kasih

Mutiara-mutiara di Jurang Kasih

Koordinator SMGM Keuskupan Agung Kupang, Adri Ceme, Ibu Yolanta Wea Ceme dan Ibu Yudith Salassa bercengkerama dengan bayi berusia 11 bulan, Laurensius Leon Kolo di Panti Asuhan Bakti Luhur, Sikumana, Sabtu, 14 Maret 2026

KELANA-NTT.COM, KUPANG — Langit di Kota Kupang sungguh cerah. Beberapa hari terakhir hujan tiada henti membasahi tanah karang ini. Cuaca yang bersahabat itu memudahkah Komunitas Sahabat Monsinyur Gabriel Manek (SMGM) Cabang Assisi, Kolhua, Kupang, Keuskupan Agung Kupang melakukan kunjungan ke beberapa “titik sentuh” pada hari Sabtu, 14 Maret 2026 siang.

Kunjungan ini sebagai bentuk spiritualitas yang ditinggalkan oleh Monsinyur Gabriel Manek, SVD, sang peziarah ini berupa Lima M, yakni mengunjungi, mendengarkan, menyentuh, menghibur dan mendoakan siapa pun.

Uskup Gabriel Manek yang saat ini sebagai Hamba Allah (Servus Dei), calon orang suci pertama dari Indonesia pernah menjadi Uskup Larantuka (1951-1961) dan Uskup Agung Ende (1961- 1969/meninggalkan Flores menuju Amerika). Ia sangat dicintai dan disayangi oleh umat di dua keuskupan ini.

Kunjungan pertama di Panti Asuhan Bakti Luhur, menyusul di Panti Asuhan Louis de Monfort di bilangan Sikumana. Ada bingkisan kecil untuk mereka.Selain itu, dua keluarga lain mendapat lawatan, yakni Keluarga Bapak Amatus Osang, sang pemusik di Jalur 40 Kupang dan keluarga Bapak Alfons Fahik di Kolhua. Pak Alfons adalah pensiunan guru SDK Santo Yoseph 4 Naikoten. Seingat saya, ia pernah menjadi kepala sekolah dasar di taman pendidikan itu.

Pada tiga titik tuju kunjungan, air mata jatuh. Pertama, di Panti Asuhan Bakti Luhur, Sikumana, ketika seorang anak berkebutuhan khusus, Agus Bria membawakan sebuah lagu berjudul, Tuhanku Oh Tuhanku (judul lagu, Kepada-Mu Kuberdoa) sambil memainkan keyboard yang sungguh menyentuh sanubari.

Petikan Ukulele Kala Senja Tiba

Kedua, saat Om Amatus menyanyikan lagu Indah Rencana-Mu Tuhan ketika kami tiba di kediamannya serta kesedihan yang melingkupi suami istri Bapak Alfons Fahik dan Ibu Margareta Rince. Suami istri ini sama-sama sakit stroke. Keduanya menggunakan kursi roda. “Dunianya” hanya di sekitar tempat tidur. Sedih sekali. Sejak kami tiba di rumah, suara tangisan keduanya sungguh menyayat hati. Ini kunjungan kedua kali oleh SMGM.

Pengalaman yang sungguh mengharu biru itu sebagai sebuah “getaran” sekaligus gerakan sosial. Gerakan untuk melihat orang-orang di sekitar kita. Perlu menggerakkan setiap hati untuk keluar dari dirinya. Melihat “cakrawala” lain. Ini sebagai sebuah refleksi tentang hati yang “tergerak” (pasif) kemudian “menggerakkan” (aktif) sampai pada titik perjumpaan dengan mereka. Kadang kita ingin mengunjungi, tapi tak cukup kuat melakukan eksekusi. Cuma terungkap di bibir dan di hati.

Membagi perhatian itu kadang dilihat sebagai hal yang kecil, namun sesungguhnya memberi efek yang besar bagi sebuah kehidupan. Membantu orang adalah upaya penyelamatan dari hidup. Cara kita menguatkan orang yang tengah jatuh. Cuma butuh sedikit kesabaran dan kerelaan hati. Seperti yang dikatakan Ibu Theresa dari Kalkuta bahwa, “Kita tidak bisa melakukan hal-hal besar, tapi hanya hal-hal kecil dengan cinta yang besar.” Atau pikiran Ivana Vanzat berikut yang cukup menggugat kemanusiaan kita. Dia bilang, “Kita tidak dapat mengalami kepenuhan hidup ketika kita menghindari orang-orang yang terluka dalam hidupnya.”

Terima kasih kepada Bapa Adri Ceme dan ibu, Bapa Anton Bele dan ibu, Bapa John Mau dan ibu yang selalu menjadi contoh Lima M serta sahabat lain yang tak kurang meneladani legacy Monsinyur Gabriel Manek. Terima kasih untuk kunjungan yang membuka mata hati. Kunjungan yang membawa kita pada sebuah realitas hidup yang membentang di depan mata.

Bagaimana hati yang bergolak saat menyaksikan anak-anak yang “terbuang” yang kemudian diasuh oleh para suster. Mereka yang mengasuh ini tak punya ikatan emosional. Mereka belajar dan terus belajar dalam menghadapi anak-anak dalam semua keterbatasannya. Mereka belajar untuk sabar, sesabar-sabarnya. Sabar menghadapi dan menahami anak-anak yang berkebutuhan khusus. Sabar untuk menumbuhkan cinta bagi mereka. Mereka, anak-anak ini adalah mutiara-mutiara yang berada di jurang kasih sayang. Mereka patut kita angkat dari ketidakberdayaannya.

Menikmati Aka Bilan yang Gurih di Pasar Betun…

Dan, karena itu kita patut memberi sepenggal perhatian. Tak banyak. Tapi, dari perhatian yang kecil-kecil itu akan terakumulasi menjadi dasyat yang dapat membangkitkan spirit bagi hidupnya kelak.

Seperti kata Monsinyur Gabriel Manek tentang komunitas. Ia mengatakan, komunitas harus beratmosfir dengan sehat sehingga menjadi kekuatan batin bagi tiap anggota baik dalam hidup, dalam kerasulan dan yang utama menjadi kekuatan batin untuk bisa menderita (1988). Frasa “kekuatan batin untuk bisa menderita” mungkin saja bermakna kita patut berempati dengan orang lain atau kita patut dan siap untuk menerima setiap penderitaan hidup di rumah kita masing-masing. (Paul Burin, Anggota SMGM Cabang Assisi, Kupang)

Related Posts