KELANA-NTT.COM, KUPANG — Semarak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tampak tak seberapa menyelimuti warga Kelurahan Naioni, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pagi tadi. Di sepanjang jalan utama, jarang terlihat umbul-umbul atau bendera berkibar. Hanya beberapa bendera Merah Putih berukuran kecil yang melambai pelan di tiang-tiang rumah. Tak semua warga memasang bendera di kediamannya.
Berbeda halnya di lingkungan sekolah dan kantor kelurahan, di mana Sang Saka Merah Putih tampak tegak dan berkibar gagah diterpa angkasa. Sedikit semarak tampak di jalanan. Anak-anak berpenampilan rapi dengan seragam merah putih lengkap bertopi, berjalan beriringan pulang dari upacara bendera.
Upacara yang wajib mereka ikuti itu ditujukan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat kebangsaan. Sambil menyanyikan lirik Satu Nusa Satu Bangsa, langkah kaki mereka menyusuri jalan berpermukaan panas di tengah suasana kampung yang tenang.
Pukul sembilan pagi, suasana di Naioni tampak tak berbeda dari hari-hari biasanya. Warga menjalani rutinitas sebagaimana mestinya. Sebagian berangkat ke ladang, sebagian menyapu halaman, membersihkan kandang ternak, menyiapkan pakan ternak, atau menyiram tanaman di pekarangan rumah yang masih tampak luas.
Suara canda tawa masih terdengar bersahaja. Seorang warga bercanda menegur kerabatnya yang tak memasang bendera di rumah.
“Benar, memang bendera tak terpasang. Namun Merah Putih itu tetap berkibar di sini,” ujar seorang petani, sambil menepuk dadanya dengan tegas. Bagi petani yang tak mau namanya disebut itu, kemerdekaan bukan sekadar soal lambang atau bendera. Kemerdekaan sejati hadir di dalam diri setiap orang sebagai semangat untuk terus berjuang dan memerbaiki kehidupan.

Viktor Tamael (kanan) dan saudaranya tengah mencabut rumput di areal yang ditanami sayur kangkung di Naioni
Ucapan sederhana itu seakan mewakili suara hati warga Naioni, kelurahan di kawasan pinggiran Kota Kupang yang masih menyimpan kesan alami. Bagi mereka, merdeka berarti terus berjuang di tengah segala keterbatasan. Hidup sederhana seadanya, menanam sayur, jagung, dan padi — sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Di sudut lain kampung, Nofry Isu (28) duduk menikmati secangkir kopi dan kudapan ringan setelah selesai menyiram tanaman di halaman rumah. Di bawah rindangnya pepohonan, bersama istrinya, Ilen Tasei (26), ia perlahan membangun rumah impian mereka. Bangunan tembok yang belum sepenuhnya rampung itu menjadi bukti kesungguhan dan perjuangan mereka berdua.
Rumah itu lahir dari keringat bertahun-tahun menanam sayur. Nofry, yang berasal dari Desa Nusa, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, menikah dengan Ilen Tasei, warga asli Naioni. Sejak tahun 2019, ia mengelola sebidang tanah pemberian mertua di samping kediaman mereka.
Nofry merasa bersyukur dan bangga dapat bercocok tanam guna mencukupi kebutuhan keluarga. Air yang digunakan untuk menyiram pun diambil dari sumur yang ada di lahan mereka sendiri.
“Saat ini harga sayur (sawi) putih sedang turun tajam lantaran panen melimpah,” ungkap Nofry. Delapan ikat sayur putih dibeli tengkulak hanya seharga Rp 5.000, lalu dijual kembali Rp 5.000 per ikat — selisih yang sungguh tidak sebanding dengan jerih payah petani.
Keadaan itu berbeda saat musim panen berkurang, antara bulan Desember hingga April. Saat itu, tiga ikat sayur sudah bernilai Rp 5.000 — masih cukup menguntungkan bagi petani.
“Kita harus menanti hingga bulan Desember agar harga kembali membaik. Namun hidup harus tetap berjalan. Maka kami tetap menanam, sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya. Bagi Nofry, kemerdekaan lahir dari cara pandang seseorang terhadap kehidupan. Merdeka berarti mampu merencanakan masa depan dan berjuang sepenuh hati demi mewujudkannya.

Kediaman milik Nofry dan istrinya Ilen Tasei di Naioni
Tantangan lain yang dihadapi para petani adalah tingginya harga bibit dan pupuk. Ketika pupuk mahal atau sulit didapat, mereka beralih menggunakan pupuk alami dari kotoran ternak dan dedaunan. Pertumbuhan tanaman memang tidak secepat bila menggunakan pupuk kimia, namun hasilnya jauh lebih sehat dan aman dikonsumsi.
Viktor Tamael, petani lainnya, berharap pemerintah dapat membangun sumur bor di wilayah tersebut. Sebab setiap musim kemarau tiba, sumur galian cepat mengering. Ia pun mengharapkan Pemerintah Kota Kupang memerhatikan potensi Naioni sebagai kawasan penyangga penyediaan sayur bagi Kota Kupang.
“Kami mendengar, di Kabupaten Malaka, bupati menyediakan bibit, pupuk, serta pendampingan pertanian secara cuma-cuma. Semoga Pemerintah Kota Kupang pun dapat melakukan hal serupa bagi kami di sini,” harap Viktor. Pikiran sederhana yang terpatri di hati seorang petani, Nofry, dan Viktor sesungguhnya merefleksikan makna kemerdekaan yang nyata. Hari ini, mereka merayakan kemerdekaan dengan cara mereka masing-masing.
Bagi warga Naioni, merdeka bukan sekadar mengibarkan bendera Merah Putih. Merdeka itu tersimpan di dalam hati, lalu menjadi kekuatan juang dalam menjalani hidup. Merdeka adalah keteguhan hati mengelola tanah demi masa depan keluarga. Hidup yang terencana, mandiri, dan penuh makna. (pol)









