KELANA-NTT.COM, KUPANG — ADA banyak hal yang dapat saya petik dari kunjungan Kelompok Paduan Suara (PS) Vincenzo Singers ke Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kupang sejak Jumat, 7 sampai Minggu, 9 Agustus 2026. Selama tiga hari, dua malam itu mereka live in bersama umat. Paduan suara yang fokus pada lagu-lagu rohani Katolik dan di-YouTube-kan secara konsisten itu, terasa sungguh memberi warna khas dari aktivitas Orang Muda Katolik (OMK) umumnya.
Anak-anak muda ini fokus membangun sebuah “peradaban” sosial dan religius di tengah perubahan zaman yang tak bisa kita bendung lagi. Mereka menjadi kuat karena mengomunitaskan dirinya pada wadah ini. Di bawah dampingan sejumlah awam dan imam yang konsisten, mereka tumbuh dan mampu mengeksplore seluruh jatidirinya baik di bidang seni musik, seni suara, seni panggung serta seni audio visual.
Selama ini, saya mengikuti gerak laju Vincenzo Singers melalui kanal YouTube-nya. Saya sungguh senang dan bangga mendengar dan terus menyimak lagu-lagu rohani Katolik yang dinyanyikan dengan sungguh indah itu. Dengan aransemen lagu dan musik yang menggetarkan citarasa. Saya seakan tengah berada pada sebuah alur sungai yang menyejukkan hati. Sungai yang menghijaukan bantaran kali rohani umat. Dan, sang pemilik Vincenzo Singers merawatnya dengan setia, jujur dan kreatif. Pada lagu-lagu itu mereka sungguh menekankan improvisasi, interpretasi dan artikulasi. Sesuatu yang ideal.
Saya tak bermaksud mengultuskan mereka. Tidak. Mungkin saja di belahan Gereja Katolik lain di Indonesia OMK lain punya saripati perjuangan yang sama. Yang membedakan adalah PS Vincenzo Singers memulai, terus memulai, konsisten, saling menumbuhkan spirit serta meninggalkan keakuannya. Mereka menggabungkan seluruh “dayanya” yang positif untuk satu tujuan, yakni memadahkan lagu-lagu rohani Katolik ke seluruh penjuru dunia melalui syair dan lagu.
Dan, dari upayanya yang konsisten itu mereka mendapatkan sebuah validasi. Sebuah pengakuan yang obyektif secara internasional. Secara mondial. Mereka tak mengenal siapa-siapa di Spanyol sana untuk sekadar tukar silang informasi apalagi melobi panitia atau entah apa namanya. Panitia global itu akhirnya menetapkan secara obyektif PS Vincenzo Singers dari Kota Sari, Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), memenuhi syarat sebagai kelompok Orang Muda Katolik (OMK) di Indonesia yang konsisten menggunakan platform media digital dengan menyanyikan lagu-lagu rohani Katolik.
Jumlah viewers-nya mencapai 20 juta sebagai angka tertinggi di Indonesia. Selain YouTube, mereka juga memanfaatkan platform media sosial lainnya. Ratusan ribu komentar positif pun mengalir dengan deras pada platform medianya. Karena itu, PS ini mewakili Gereja Katolik Indonesia untuk mengikuti sebuah kompetisi yang diikuti sekitar 30 negara di Negeri Matador itu. Sebuah kontes lagu rohani internasional yang sungguh bergengsi. Beberapa lagu daerah NTT dan Indonesia telah mereka persiapkan untuk tampil. Sedangkan dari Gereja Protestan Indonesia diwakili oleh PS HKBP Menteng, Jakarta Pusat.
Dari pertemuan dan diskusi dengan beberapa orang anggota, di antaranya Ketua Paduan Suara, Ade Yuven Boikletes dan arranger musik, Ade Valen Nine, saya akhirnya mendapat sebuah gambaran nyata dan utuh tentang kiprah dari komunitas ini. Ade Yuven, sang dirigen (vocal director) ini mengatakan bahwa kelompok ini sangat menghargai waktu. Mereka membangun disiplin diri tiada henti. Disiplin menjadi kunci utama di dalam berkarya. Latihan koor harus tepat waktu. Take vocal dan musik rekaman harus tepat waktu selain disiplin dalam pengambilan vedio. Space waktu ini diatur sebegitu ketat di antara rutinitas mereka sebagai ASN serta panggilan tugas lainnya. Di sini, butuh komitmen diri yang tinggi.
Ketika hari-hari ini mereka dilibatkan untuk menyukseskan agenda mewakili umat Katolik Indonesia untuk mengikuti kontes di Barcelona, Spanyol bulan Oktober 2026 dengan berbagai privat konser untuk mengumpulkan dana, mereka mampu menyesuaikan diri. Mereka mobile ke mana-mana dengan biaya sendiri. Dari kantong pribadi mereka. Mungkin juga ada sponsor atau dari kas komunitas. Sekali arahan, semua anggota menjadi paham dan dapat menjalaninya. Tentu kita juga tak menafikan kekurangan di sana-sini.

Usai membawakan koor, anggota PS Vincenzo Singers foto bersama pembina, Ady Pontus
Karya Baru
Jika dari sisi vokal PS Vincenzo Singers masuk kelompok papan atas negeri, maka ikutan lainnya adalah bagaimana mengaransemen musik dengan baik. Ade Valen Nine (music producer), berpandangan bahwa setiap kali bernyanyi, garapan musik bersama teman-teman selalu baru. Karya harus original. Karya yang khas Vincenzo Singers. Ade Valen menyebut, seorang musisi harus bisa mencipta. Mencipta artinya menghasilkan sebuah karya musik yang baru. Karena itu, garapan musik jangan sampai terburu-buru. Seorang musisi katanya, harus dapat menangkap pesan dari sebuah lagu. Hikmah apa dari karya itu sehingga ia dapat “melahirkan” musik yang setara dengan syair lagu yang indah itu.
Benar saja. Coba kita dengarkan musik paduan suara ini. Terasa sungguh hikmat, nikmat, agung, kramat, religius, magis dan memesona. Jika kita sudah berulang kali mendengar atau menonton karya mereka pada kanal YouTube, maka kita akan dengan spontan mengatakan bahwa lagu itu sebagai hasil karya Vincenzo saat intro, misalnya. Atau saat lagu baru yang ditayangkan. Meski pun lagu-lagu yang dinyanyikan diambil dari lagu-lagu Gereja Katolik yang sudah meluas akan tetap terdengar “khas,” “fresh,” dan “lain” sebagai karya yang monumental. Sungguh mati sebagai penikmat saya merasakan suguhan karya yang easy going. Sebuah maha karya anak-anak muda yang berkelas. Saya membayangkan sebuah lagu itu membutuhkan seberapa lama waktu untuk menyiapkan dari berbagai aspek hingga mastering.
Bermadah di Bukit Assisi
Hari Minggu, 9 Agustus 2026 mereka tampil memukau di Gereja Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kupang. Misa pertama dan kedua mereka “borong habis” dengan bernyanyi. Lagu-lagu yang dibawakan sungguh mengumat. Umat di paroki itu merasakan suasana yang baru. Gereja yang terletak di Bukit Assisi ini menjadi penuh. Umat membanjir. Apresiasi pun tak kecil. Pun saat resepsi sederhana di aula paroki. Dua lagu yang dipanggungkan, yakni Cikirikirikici dan Di Loudes di Gua sangat menghibur umat yang hadir. Yang menjadi kekhasan lainnya, mereka selalu diiringi musik violin yang digawangi dengan sempurna oleh Nona Nita Nahak.
Resepsi sederhana itu berakhir dengan penyerahan bingkisan dari umat paroki itu. Baik Pastor Paroki, RD Dus Bone; Ketua DPP, Bapa Adri Ceme; Penasihat DPP, Bapa Anton dan Ibu Yudith-Bele serta Mama Yolenta Wea memberi apresiasi yang tinggi untuk PS Vincenzo Singers ini. Nilainya Rp 25 juta sebagai bagian support umat untuk perjalanan ke Spanyol dua bulan lagi. Umat di paroki ini juga mengirim bagian (transfer) dengan atau melalui rekening yang disampaikan. Dengan demikian “nilai’ dari perhatian itu akan lebih dari Rp 25 juta.
Pembina komunitas ini, Om Ady Pontus menestimoni bahwa karya lain yang dilakukan komunitas ini adalah membangun Taman Doa Bunda Maria di Sasi, Kota Kefamenanu. Dari total dana Rp 3,5 miliar, sebanyak Rp 2,5 miliar diperoleh dari usaha anak-anak ini. Sama halnya dengan rencana perjalanan ke Spanyol, mereka membangun komitmen untuk mencari dana dengan berkonser lagu hingga Dili, Timor Leste, dua kali di Kota Kefamenanu dan sekali di Hotel Aston, Kupang.
Saat memberi sambutan di Aula Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kupang, ia menyampaikan terima kasih atas doa, perhatian dan bingkisan umat setempat. Hal senada disampaikan penasihat Pater Jose Alexander Nitsae, OFM.Conv. Pater Jose yang kini berkarya di Oekusi, Timor Leste, ini mengatakan atas semua doa dan harapan umat, ia percaya PS Vincenzo Singers akan melewati perjalanan panjang ke Spanyol dengan lancar hingga kembali ke Kefamenanu. Kepada anak-anak muda ini, ia meminta untuk terus berdoa dan berkarya tiada henti.
Sedangkan penasihat lainnya, Romo Kris Oki yang juga Pastor Paroki Santo Marya Vianey, Maubesi, Insana, mengatakan, semangat yang ditunjukkan oleh komunitas ini memberi harapan yang luar biasa. Harapan untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Api perjuangan yang menyala ini harus terus dikobarkan dan dijaga. Apa pun kondisinya.
Menurut saya, jika semua paroki di daratan Timor – karena mudah dijangkau – menggunakan pola sebagaimana yang dilakukan di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua Kupang, maka akan mengaitkan atau menghubungkan kita pada sebuah nada yang sama, yakni sikap menghargai karya dan perjuangan, menyuport serta menguatkan mereka pada pentas seni di Spanyol nanti. Mereka tampil membawa wajah Gereja Katolik Indonesia dan nama baik bangsa ini. Bukan soal berapa “nilai” yang kita berikan. Doa selalu buat karya-karya agung PS Vincenzo Singers ini. Tuhan memberkati. (Paul Burin, Wartawan Pos Kupang 1992-2025)









