KELANA-NTT.COM, KUPANG — Seksi Kerasulan Awam dan Keluarga, Seksi Komunikasi Sosial (Komsos) dan Hubungan Agama dan Seksi Karya Misioner Rohani menyoroti sejumlah hal penting sebagai bahan masukan bagi pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Keuskupan Agung Kupang (KAK) pada tiga tahun ke depan.
Usulan itu disampaikan pada Focus Group Discussion (FGD) Bidang I pada Musyawarah Pastoral (Muspas) I Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kupang, Jumat, 16 Januari 2026. Dalam Muspas ini panitia membaginya dalam enam FGD.
Di antara berbagai topik, yakni perlu adanya sebuah lembaga yang menghimpun dan mengelola dana untuk membiayai pendidikan anak-anak yang patut dibantu di paroki ini. Semacam Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) milik pemerintah RI.
Dalam diskusi itu disebutkan, jika 1. 000 kepala keluarga di paroki itu yang tiap bulan menyumbang Rp 10.000 saja, maka sebulan didapatkan dana sebesar Rp 10.000.000. Bila dikali enam bulan maka dana segar yang terkumpul sebesar Rp 60.000.000 akan mampu membiayai beberapa orang anak. Tentang mekanisme dan kriteria kepada siapa dana itu disalurkan tinggal didiskusikan secara teknis.
Apakah “lembaga” ini hanya membayar SPP saja atau seperti apa pemberian beasiswa itu sekali lagi perlu disepakati kriterianya.
” Kita patut membangun sumber daya manusia (SDM) yang handal sebagai pilar gereja dan bangsa dengan memberi beasiswa,” kata John Mau, yang mempresentasikan salah satu usulan yang mengemuka pada FGD yang mengambil tempat di dalam Gereja Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kupang.
Pikiran lain yang berkembang dalam FGD itu, yakni gereja yang memiliki jaringan yang relatif kuat dan luas bisa mendatangkan praktisi untuk memberi pelatihan kepada generasi muda yang belum mendapat pekerjaan.
Anak-anak muda di paroki itu tinggal diarahkan sesuai bakat dan minatnya, seperti pelatihan marketing, digital marketing, kemasan produk serta bagaimana proses sebuah produk dapat dihasilkan dan memenuhi selera market.
Di era digital ini, sesungguhnya ada banyak peluang usaha yang bisa ditangkap untuk sebuah pemberdayaan ekonomi. Semuanya perlu dalam bentuk pelatihan untuk memberi perspektif tata kelola yang lebih baik. Bagaimana menumbuhkan jiwa entrepreneurship yang kokoh dan tahan banting serta pantang menyerah.

Pastor Paroki, RD Longginus Bone, Pastor Rekan, RD Tony Kobesi, Ketua Harian DPP, Adri Ceme dan Ketua Panitia Muspas I, Zakarias Tola saat menutup Muspas ini, Jumat, 16 Januari 2026
Ketahanan mental menjadi daya utama karena pelaku usaha akan menghadapi dinamika yang tak gampang. Dan, catatan lain pendampingan kepada generasi muda ini patut dilakukan oleh sebuah tim yang dibentuk oleh DPP. Dengan menumbuhkan ekonomi maka akan banyak muncul dampak positifnya. Derma gereja pada tiap hari Minggu, misalnya akan meningkat.
Diskusi ini juga menyinggung hal lain misalnya, ketika uskup memberi suspensi (pembebastugasan) kepada para imam yang diduga bermasalah, maka kepada umat hirarki patut memberi semacam “suspensi.” Apakah umat yang melakukan pelanggaran berat patut mendapat ekskomunikasi. Di sini, gereja harus tegas. “Bagaimana dengan keluarga-keluarga yang bermasalah, seperti apa gereja menyikapinya. Misalnya, dengan tegas para pihak itu tak boleh menyambut tubuh dan darah Kristus,” kata Gerardus Manyela, seorang umat yang cukup vokal ini.
Sebelumnya, saat presentasi Relasi Imam dan Umat dalam Pelayanan Menuju Gereja yang Mandiri oleh Ketua Tribunal Keuskupan Agung Kupang (KAK), P. Doktor Viktor Dedi Sasi menyebut bahwa saat ini terdapat 88 keluarga Katolik yang terdaftar untuk menjalani anulasi perkawinan.
Dari 88 kasus itu sudah delapan yang putus. Empat di antara karena faktor judi online. Sedangkan empat lainnya beragam penyebab.
Hieronimus Modo, umat dari KUB Benediktus, mengatakan, gereja patut memberi perhatian pada Sekami. Sejauh yang ia lihat perhatian pada anak-anak belum maksimal. Ia juga mengusulkan pemilihan dan pelantikan diakon awam di stasi-stasi dalam membagi komuni.
Sedangkan Dion DB Putra, umat dari KUB Benediktus, mengatakan, kerap karena faktor kesibukan atau apa, ” Kita kurang melihat orang-orang di sekitar kita. Kita cuma kumpul saat Doa Rosario dan kematian setelah itu kita melupakan hal lain yang juga sangat penting. Misalnya, anak-anak yang setelah kuliah belum mendapat pekerjaan. Kita bisa mencari jaringan atau peluang kerja untuk mereka.”
Saat presentasi John Mau meminta para pihak untuk melihat hal ini secara serius. Saling memberi informasi tentang peluang kerja sungguh berarti dalam membantu generasi muda di paroki.
FGD itu dipimpin Ketua Bidang I, Yudith Sallasa- Bele dan dihadiri Peter Manggut dan Martin Tokan sebagai pengamat. Kedua tokoh ini juga memberi berbagai pertimbangan serta solusi. Sedangkan Ibu Yudith meminta peserta untuk memberi pandangan atau evaluasi apa saja untuk dicatat sebagai bahan masukan untuk program kerja tiga tahun ke depan.
Ketua Komsos Paroki, Angel Tamo Ama menekankan banyak hal tentang membangun komunikasi yang baik serta program kerja seksi ini. Satu di antaranya adalah segera menerbitkan Buku Sejarah Lahirnya Paroki Santo Fransiskus dari Assisi. (pol)









