KELANA-NTT COM, KUPANG — Musyawarah Pastoral (Muspas) Pertama Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Keuskupan Agung Kupang (KAK) patut ditindaklanjuti dengan aksi-aksi yang nyata. Karena itu butuh kerja sama baik tiap bidang/seksi serta umat di tingkat basis.
Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kupang, RD Longginus Bone mengatakan hal ini saat menutup Muspas Pertama di aula paroki itu, Jumat, 16 Januari 2026 malam.
Muspas yang dimulai pukul 08.00 Wita itu dihadiri oleh utusan dari berbagai stasi, yakni Belo, Noelsinas, Usapi Sonbai, Fetonai serta utusan dari Kelompok Umat Basis (KUB) di pusat paroki. Peserta yang hadir sebanyak 150 orang.
Romo Dus Bone, begitu ia disapa mengatakan, Muspas ini untuk pertama kali dilakukan di KAK. Ini sebagai sebuah langkah yang maju dan boleh menjadi contoh di keuskupan ini.
Romo Dus Bone menanggapi semua masukan itu dengan positif. “Masukan yang disampaikan para peserta akan kami perhatikan. Kita harus berubah dari waktu ke waktu,” katanya.

Para juru bicara membacakan hasil diskusi kelompok tiap bidang
Ia dan Pastor rekan RD Tony Kobesi siap dan akan terus menerima kritikan maupun masukan dari umat untuk kemajuan paroki ini. Intinya kata dia, jika semua pihak di paroki ini berkehendak baik maka semuanya akan berjalan dengan lancar.
Ia juga menekankan partisipasi umat dalam berbagai kegiatan di gereja. Ke depan, Romo Dus mengharapkan sebuah potret perjalanan paroki yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Di saat kegiatan Muspas akan diakhiri, Romo Dus juga memberi kesempatan kepada Ketua Panitia, Zakarias Tola untuk berbicara. Zakarias yang sebelumnya menjadi moderator sejumlah pembicara baik dari Kota Kupang dan Kementerian Agama Kota Kupang, menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang telah mengikuti acara Muspas hingga penutupan pukul 18.30 Wita.
Ketua Pelaksana DPP Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Adrianus Ceme juga menyampaikan rasa gembiranya atas kegiatan perdana di paroki dan keuskupan ini. Pada sesi pemaparan materi Adri Ceme terus mendorong umat untuk terlibat dalam setiap aktivitas keparokian. Hanya dengan kolaborasi yang total setiap program yang direncanakan kemudian dibahas kembali pada forum diskusi bidang semakin memerkaya rencana kegiatan selama tiga tahun ke depan.

Tiga orang perumus hasil diskusi, yakni dari kiri Anton Bele, Bele Labre dan Willem Openg
Rencana kerja yang baik kata Adri juga datang secara bottom up. Datang dari usul saran para peserta yang kemudian disimpulkan oleh tim perumus. Para tim perumus, yakni tiga orang tokoh yang selama ini aktif memajukan paroki ini. Mereka adalah Anton Bele, Bene Labre dan Willem Openg.
Saat menyampaikan hasil rumusan Muspas, Willem Openg yang pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari NTT ini mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Pater Dr. Dodi Sasi terkait relasi antara imam dan umat harus berdasarkan atas kasih. Kalau memberi masukan untuk pastor atas dasar kasih. Begitu juga sebaliknya.

Peserta mendiskusikan materi Muspas
Willem juga mengatakan Ketua Harian DPP saat mempresentasikan materinya menyentuh tiga hal pokok, yakni pengembangan iman umat, meningkatkan partisipasi umat dalam kegiatan di gereja dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya iman sehari-hari.
Willem juga menyentil tentang pengembangan sosial ekonomi umat, salah satunya berkoperasi. “Kau susah saya bantu, saya susah kau bantu,” kata Willem sambil menyebut bahwa hidup berkoperasi itu penting untuk saling membantu secara proporsional.
Saat membacakan hasil diskusi enam kelompok yang merupakan input peserta disebutkan sejumlah hal yang dipandang penting dalam memajukan paroki. Pendidikan dan pelatihan menjadi entrepreneur, wajib berkoperasi pada Koperasi Bene Factor milik paroki, pendampingan kaum muda serta perhatian pada ekonomi umat. (pol)









