Lintas Flobamorata
Home / Lintas Flobamorata / Perjumpaan yang Meneguhkan di Seon, Keuskupan Atambua

Perjumpaan yang Meneguhkan di Seon, Keuskupan Atambua

Berpose bersama Romo Alo Kosat, Pr dan Romo Lando Afoan, Pr

 KELANA-NTT.COM,KUPANG– AULA Paroki Seon, Keuskupan Atambua, Rabu, 13 November 2025 sungguh sejuk nian meski panas seakan memanggang tubuh. Bangunan pastoran paroki yang bersanding langsung dengan Gereja Kristus Raja, Seon, itu nyaris tertutup oleh rerindang pohon beringin yang usianya sudah puluhan tahun. Mungkin pula ratusan tahun lamanya. Pohonnya menjulang ke langit biru menjadikan tempat itu adem dan mendamaikan hati. Tentram rasanya bila berada pada titik ini.

Kami menemui Romo Alo Kosat , Pr (78), Pastor Paroki Seon dan Romo Lando Afoan, Pr, pastor rekan di pastoran yang letaknya di poros utama Kupang – Betun atau Atambua-Betun. Minggu itu saya dan keluarga jalan-jalan dengan beberapa agenda yang sudah terjadwal sejak bulan lalu. Satu di antaranya, menghadiri nikah adik ipar Odi Nine di Gereja Santu Fransisco Marco de Fatima Kotafoun, Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Jumat, 14 November 2025.

Adik Odi, putra kedua Bapak Mundus Nine, almarhum dan Mama Eta Naikofi menikah dengan Ade Tari Bau. Bapa Mundus yang adalah pensiunan ASN pada Dinas Pekerjaan Umum TTU, merupakan adik kandung mertua Bapa Dami Tanesib. Sedangkan Mama Eta, pensiunan guru. Sebelum purna, Mama Eta sebagai kepala SDN Nunbai, Kecamatan Insana Tengah, TTU.

Percakapan dengan Romo Alo memberi saya begitu banyak perspektif tentang dunia pastoral. 40 tahun menjadi imam memberinya begitu banyak pengalaman batin, perjumpaan yang meneguhkan, tapi juga dinamika yang membentuk karakter untuk selalu teguh, kuat apa pun situasinya. Kekuatannya ada pada doa, penyerahan diri yang total serta membawa diri sebagai pelayanan yang purna. Pelayanan tanpa memandang latar belakang atau strata sosial umat.

Menghadapi karakter umat yang beragam, medan pelayanan yang luas terutama di Paroki Seon– paroki terluas di Keuskupan Atambua — sudah cukup menjadikan Romo Alo dan para konfrater untuk lebih  bersemangat dalam berpastoral.

Panitia Masjid Al’ Muharam Kupang, NTT Sembelih 8 Ekor Sapi dan 7 Ekor Kambing Kurban

Ketika cerita Romo Alo yang mengalir begitu rapi dan mengesankan, lonceng di gereja berdentang tepat pukul 12.00 Wita. Angelus. Romo Alo mengangkat doa. Sekitar dua menit kami mendaraskan doa ini dengan khusuk.

Potongan kisah itu dapat dijahit atau boleh dirangkai menjadi sebuah mozaik yang indah. Siang itu, di sela-sela kisah yang menumpuk dan tercurah secara deskriptif, kami menikmati makan dengan varian menu yang mendorong selera. Sungguh.

Ada daging ayam rebus, ada daging babi, ada ikan sardin kering yang balik tomat, ada buah kestela rebus, ada mangga harum manis, pisang masak dan beberapa menu lain. Khusus sayur dan buah-buahan diambil dari halaman pastoran. Romo juga menyiapkann sirih dan pinang sebagai “dessert” atau “makanan penutup” untuk rombongan kami.

Romo Lando Afoan yang sungguh sibuk, mengkoordinasi segala sesuatu terkait perjumpaan pada hari itu. Terima kasih Romo Lando. Romo Lando bilang, Seon itu tempat pertama ia menyemikan karya imamatnya. Di sana ia bertemu dengan Romo Alo yang memberinya cakrawala tentang arti dan makna dari panggilan sebagai imam Tuhan. Seon memberinya ladang pengabdian pertama imamatnya. Seon memertemukan ia dan umat yang meneguhkan dalam banyak hal.

Rm Alo Kosat Pr, Pastor Paroki Seon sedang melihat tanaman naga di halaman pastoran paroki.

Sempat pula kami melihat tanaman terung dan tomat yang buahnya siap panen. Ada juga tanaman naga yang sudah lewat masa panen. Buah mangga harum manis yang ranum di pohon. Romo Alo yang pernah menjadi Deken TTU berkisah ketika Covid-19 melanda, ia mulai menanam di pekarangan pastoran yang cukup luas dan hasilnya dapat memenuhi kebutuhan sayur-mayur sehari-hari. Ini juga sebagai karya pastoral yang nyata. Pastoral yang memberi contoh dalam kehidupan nyata sosial ekonomi.

Sapi Kurban dari Presiden Sampai ke Masjid di Lembata

Halaman Paroki Seon

 

Senang sekali dapat bersua dengan Romo Alo. Romo inilah yang menikahkan kami 30 tahun lalu. Sehat selalu Romo Alo. Tuhan memberkati dalam karya pelayanan di Paroki Seon. Terima Diakon Jery Nahas yang sudah ditahbis menjadi imam, pekan lalu meski kita cuma “say hello” cukup memberi kesan yang menguatkan hati. Juga Frater Ando Bolaen, terima kasih. Untuk Ade Odilla yang cukup kami repotkan menyediakan sesuatu untuk pertemuan singkat itu, terima kasih pula. (Paul Burin)