Perspektif Hukum
Home / Perspektif Hukum / Confidimus Paus Leo XIV ( Suatu Relung- relung Renung)

Confidimus Paus Leo XIV ( Suatu Relung- relung Renung)

Oleh:

Yohanes Bernando Seran, salah seorang mantan seminarist pada SMA Seminari Lalian, Angkatan 31 tahun 1981- 1985.

SEPEKAN terakhir dalam bulan April ini, tampak eksplisit di permukaan diskursus spektakuler menghiasi halaman media baik cetak maupun online. Tampak diskursus dialektis kontroversial ke arah contradictio in terminis antara seruan Paus Leo XIV dan sikap politik Presiden AS Donald Trump. Paus Leo menyerukan kata- kata Tuhan Yesus Kristus saat pertama kali bangkit dari kubur, DAMAI BAGI KAMU SEMUA. LA PACE SIA CONTUTI VOI yang juga diucapkan Paus Leo XIV saat pertama kali tampil di Basilika St. Petrus sesaat setelah diumumkan sebagai Paus baru menggantikan Paus Fransiskus yang meninggal HABEMUS PAPAM.

Sementara Presiden Trump menyerukan visi yang berbeda dengan Paus Leo XIV soal use of force dengan Iran yang disokong Benyamin Netanyahu dari Israel. Kedua pemimpin dunia ini melegitimasi kematian puluhan ribu anak-anak dan ibu-ibu yang tidak bersalah melalui perang. Paus Leo minta agar konflik wilayah diselesaikan melalui perundingan dan diplomasi mencapai perdamaian abadi. Presiden Trump memilih jalan use of force menekan, menginvasi dan mengintimidasi serta memblokade jalur-jalur Iran yang potensial kehidupan umat manusia.

Sikap dan pendirian kedua pemimpin dunia di atas setidaknya memberi gambaran terhadap beberapa terminologi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, Paus Leo XIV melihat harkat dan martabat manusia harus dilindungi dan tidak boleh dikurangi dengan cara apa pun apalagi dengan cara perang use of force.

Wacana Pemakzulan Presiden Prabowo Inkonstitusional

Hukum internasional pun tidak memberi justifikasi terhadap kematian anak-anak dan kaum perempuan dalam peperangan. Hukum agama lebih keras lagi mengutuk pembunuhan manusia melalui perang karena kematian itu hanyalah domain Tuhan dan bukan pendelegasian kepada kekuatan suatu negara dan pemimpinnya.

Kedua, Paus Leo XIV sudah waktunya mengutuk orang yang menggunakan keserakahan kekuasaannya untuk menganeksasi, mengintimidasi dan memblokade wilayah negara lainnya. Paus Leo tak gentar dan meminta semua pemimpin dunia untuk mencari jalan perdamaian dan bernegosiasi untuk menciptakan perdamaian. Kekuasaan manusia itu diberikan Tuhan bukan untuk memusnahkan orang lain, tetapi memberi rasa damai bagi orang lain.

Paus Leo tak gentar sedikit pun akan pandangannya yang berhadapan dengan pandangan Washington Pentagon yang memilih kekuatan senjata menyelesaikan konflik wilayah kedaulatan.

Ketiga, seruan damai yang disampaikan Paus Leo disambut antusias oleh jutaan penduduk dunia ketimbang cemoohan terhadap sikap Presiden Trump yang membombardir tak terukur yang menimbulkan kematian ribuan anak-anak dan ibu-ibu yang tak bersalah. Demonstrasi besar-besaran menolak kebijakan Trump membuktikan cara dan tindakan yang digunakan Trump dan Netanyahu, adalah peniadaan terhadap hakekat kemanusiaan itu sendiri. Bersama Paus Leo kita meyakini bahwa pada saatnya kekuasaan yang membabi-buta akan sirna bersama waktu dan pemimpin yang berkuasa sewenang- wenang akan runtuh menghilang dalam sukma.

Pada penghujung seruan moral Paus Leo marilah kita mendukung dan mempercayai seutuhnya Paus Leo XIV akan menang dalam perdamaian itu sendiri dan perdamaian akan menang terhadap Presiden Trump dan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu. CONFIDIMUS PAUS LEO XIV LA PACE SIA CONTUTI VOI.

KUHP dan KUHAP Baru Harus jadi Mata Pelajaran di Sekolah