Ekonomi dan Bisnis
Home / Ekonomi dan Bisnis / Kisah Pemilik Show Room Mobil Blessing Motor, Pieter Samadara: Membeli Mobil bukan Membeli Masalah (3)

Kisah Pemilik Show Room Mobil Blessing Motor, Pieter Samadara: Membeli Mobil bukan Membeli Masalah (3)

KAKAK BERADIK – Mus dan Pieter, kakak beradik yang telaten mengelola usaha mobil bekas sejak tahun 2007.

KELANA-NTT.COM, KUPANG — Penyertaan modal dalam jual beli mobil bekas cukup besar dengan profit yang tak seberapa. Modal itu diputar-putar untuk menambah profit. Jika dibandingkan dengan bisnis rumah makan, margin, profit atau keuntungan bisa dipastikan 100 persen kembali. Belanja di pasar Rp 2 juta dapat diputar menjadi Rp 4 juta.

Di show room mobil, mobil yang dibeli dengan harga Rp 100 juta tak mungkin memanen untung Rp 100 juta. Beli Rp 100 juta, jual Rp 105 juta atau Rp 110 juta. Profit atau keuntungan cuma Rp 5 juta atau Rp 10 juta. Yang sisanya Rp 100 juta itu modal yang harus diputar-putar lagi atau dengan kata lain tak boleh diganggu. Jika modal diganggu maka bisnis akan terseok-seok.

Di sini butuh ketelatenan untuk mengelola modal itu. Harus pintar-pintar mengelola modal agar terus menopang usaha. Terkadang uang yang di tangan usai menjual mobil terlihat banyak, namun sesungguhnya itu adalah modal. Kadang harus memutar uang bank yang dipinjam untuk membiayai usaha itu.
Demikian sari pikiran yang disampaikan satu di antara Owner Show Room Mobil Blessing Motor, Kupang, Pieter Samadara saat ditemui di Kupang, Selasa, 23 Desember 2025.

Pieter yang kini tengah menyelesaikan studi S3 di Universitas Airlangga, Surabaya, ini mengatakan, yang namanya bisnis terkadang up down, naik dan turun. Saat pendapatan menurun maka harus survive.

Kondisi ini hampir pasti kondisi ini melanda semua jenis usaha saat ini. Semoga tahun 2026, geliat bisnis atau usaha dapat tumbuh lebih baik lagi. Tentu dengan kiat dan strategi yang bisa diubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Yang namanya bisnis kata Pieter, akan menghadapi dua kemungkinan, yakni meraih keuntungan dan menghadapi kerugian. Untuk meraih keuntungan butuh cara, strategi dan pola yang konsisten serta mampu membuat terobosan.

Ditetapkan Sebagai Tersangka, Chris Liyanto Merasa Sedih karena Berdampak pada Psikologi Nasabah

Dulu, saat memulai usaha ini, baik pembelian secara cash dan kredit cukup berimbang. Pieter mengatakan, ekonomi saat itu diasumsikan baik sehingga perbankan lebih berani mencairkan pokok hutang agak lebih tinggi. Sekarang, pencairan pokok hutang bank berkurang. Dulu, satu unit mobil cair 80 persen, sekarang turun menjadi 70 persen.

Berarti uang konsumen banyak yang keluar. “Kita mau mobil yang murah sekali, pasti mobilnya jelek. Ada dua kemungkinan kalau mobil tak jelek bisa jadi dokumen kendaraan itu bermasalah. Bila modal usaha terpakai banyak dan dokumen bermasalah bisa total loss,” kata Pieter.

Selama ini Pieter mengatakan, pembelian mobil dan mengurus dokumen kendaraan di Jawa tak bermasalah. Semuanya clear, cek fisik, cek dokumen. Jika pemain baru maka ada kemungkinan terjebak dalam mata rantai mafia. Intinya jika mobil sudah dibawa ke Samsat berarti 50 persen fisik kendaraan sudah hampir sah.

Mus Samadara bersama adiknya Pieter Samadara.

Jika penjual mobil enggan atau tak mau membawa mobil ke Samsat, sebaiknya tinggalkan. Jangan gubris lagi karena kemungkinan besar kendaraan itu tak punya dokumen atau kendaraan itu bodong, bermasalah. Legalitas kendaraan diragukan. Saat membeli kendaraan harus dapat memerjuangkan kepentingan pribadi. Anggap saja bahwa kendaraan akan digunakan untuk kepentingan sendiri. “Kita merepresentasi keinginan pembeli,” katanya. Tapi kadang, “Kami beli melalui vendor, melalui lelang yang resmi. Jika itu ya, tak perlu lagi ke Samsat. Kami sebagai penyedia kendaraan jangan menyusahkan konsumen agar setelah membeli mobil tak membeli lagi masalah. Tiap hari hanya bolak-balik ke bengkel, itu namanya membeli masalah.”

Kalau mobil lecet-lecet sedikit dan performa mesin bagus, tak menjadi soal. Yang lecet pada bodi kendaraan dibiarkan saja original. Bila konsumen minta untuk perbaiki, maka penyedia jasa akan mengecatnya. Karena ekspektasi konsumen adalah setelah membeli ia langsung kerja, cari duit.

Toko Gree Menjual AC Gree, Semakin Diminati Konsumen

Yang patut dijaga adalah diferensiasi. Menyediakan produk sebagus mungkin sehingga menjadi pembeda dengan lainnya. Mau bilang, bisnis yang gampang itu adalah meniru bisnis yang ada jika punya modal. Jika punya duit, esok bisa saja memulai bisnis yang sama. Tapi, bagaimana mengeksekusi bisnis, tiap orang punya cara yang berbeda. Cara menjualnya beda. Itu original, tak bisa ditiru. Tindakannya beda-beda. Di sini alam akan menyeleksi. Misalnya, saat Covid-19, manajemen ini menjual mobil tangki karena banyak warga membutuhkan air.

Tipologi Konsumen

Pieter melihat tipologi konsumen khusus di Kota Kupang saat membeli kendaraan adalah dengan kredit 80-90 persen. Ini sebuah kepastian. Kalau pun konsumen membeli dengan cara cash bila digali lagi ia akan mengatakan bahwa ia meminjam di bank atau koperasi lalu membayar dengan cash. Artinya bahwa ia tetap meminjam.

Ketika ekonomi menurun bank tidak memberi kredit kepada masyarakat, maka show room pasti terdampak. Kalau 80-90 persen konsumen melakukan kredit dana artinya show room kehilangan market 80-90 persen. “Karena kita harap tunai cuma 10 persen. Itu artinya semua show room rebutan dana 10 persen ini,” tambahnya.

Daya beli untuk cash barang tiap daerah berbeda. Di Jawa, mungkin didukung oleh penghasilan lain seperti tambang di luar pulau itu dengan uang cash yang banyak sehingga memungkinkan konsumen dapat membeli mobil secara kontan.
Sejauh ini Pieter melihat terkadang penghasilan bulanan konsumen cukup untuk membayar angsuran kredit.

Pemkab Lembata dan PT Prime Timor Teken MoU Tekankan Standar Ekspor dan Produk Babi Lokal Organik

Ketika Bank Christa Jaya membuat terobosan setidaknya menstimulasi bisnis otomotif mobil passanger untuk grab maupun rental sekitar 70-80 persen. Ini sebagai upaya menumbuhkan ekonomi di daerah ini. (paul burin/kelanantt.com/habis)