KELANA-NTT.COM, KUPANG –DUA bersaudara, yakni Mus Samadara dan Pieter Samadara tak pernah kenal lelah dalam membangun bisnis mobil bekas. Usai kuliah, saat mereka belum punya pekerjaan, sang kakak, Ibu Selvi Samadara—saat ini dosen pada Politeknik Negeri Kupang– membantu modal untuk merintis usaha Play Station. Usaha ini tumbuh bahkan cukup sukses.
Usaha inilah yang menjadi dasar ia bersama sang adik ingin memulai sesuatu yang baru, yakni Bisnis Mobil Bekas. Pergilah lelaki ini menemui Pak Chris Liyanto, owner Bank Christa Jaya Kupang. Yang namanya bank tak akan meminjamkan uangnya dengan ide-ide bahwa akan melakukan usaha ini dan itu. Yang bank butuhkan adalah aksi nyata usaha. Usaha apa yang sudah atau sedang berjalan. Usaha Play Station ini menjadi jaminan selain sertifikat tanah. Di sana kata Mus, ia menangkap spirit dan kepercayaan dari Pak Chris Liyanto yang akhirnya memberinya pinjaman uang sebagai modal usaha. Modal untuk memulai Bisnis Mobil Bekas.
Mus menyebut Pak Chris Liyanto sebagai bapak yang baik. Ia mendorong, memberi kepercayaan dan memotivasinya agar usaha itu harus sukses. Jadi bukan semata memberi bantuan berupa kredit uang saja, tapi memberi advokasi yang tiada henti. “Pak Chris itu pengusaha sejati,” katanya.

Mus Samadara bersama keluarganya.
Dengan kredit dari bank ini, usaha itu berjalan dengan baik. Pada awal-awal memulai, usaha ini berjalan cukup bagus. Mobil sangat laris. Konsumen membeli dengan sistem cash. Waktu itu belum ada finance. Leasing belum ada dan baru muncul sekitar tahun 2009 atau dua tahun setelah usaha itu berjalan. Saat itu kata dia, sehari bisa sepuluh unit mobil yang terjual. Dulu, pembeli banyak sedangkan penjual mobil masih kurang.
Keluarga pun mendukung termasuk sang ayah Yunus Samadara yang seorang guru sekolah dasarr (SD) ini. Kepada orang tua, Mus dan Pieter mengatakan, keduanya hanya bekerja saja. Sedangkan keuangan dikendalikan langsung oleh sang ayah. Sang ayah punya pertimbangan bahwa dua anaknya ini masih muda sehingga butuh pengendalian keuangan. Benar adanya, pinjaman di bank itu lunas sebelum satu tahun. Jauh lebih cepat sekitar tiga atau empat tahun dari batas waktu pelunasan. Sang ayah selalu mengingatkan agar jangan pernah terlambat dalam melunasi hutang bank. “Bapa bilang, kalo sakit hilang sedikit, kalo kepercayaan hilang, hilang semuanya. Apalagi dengan bank,” kata Mus mengutip sang ayah yang sungguh bijak ini.

Serah terima mobil di Show room Blessing.
Kepada para konsumen ia memberi pesan seperti ini. Jangan lupa untuk membayar cicilan bank. Bank sangat ketat dalam sistem administrasi keuangan. Jika pembayaran tak lancar maka akan menjadi kendala ke depan jika hendak meminjam lagi.
Usaha itu terus berkembang hingga saat ini. Atas kedekatan emosional dengan manajemen Bank Christa Jaya saat tawaran untuk pertama kali pameran mobil bekas tahun 2013, Mus mengukutinya bahkan sampai detik ini. Pameran itu sempat jedah beberapa tahun dan baru kembali dihidupkan pada tanggal 11-17 Desember, kemarin.
Saat pameran mobil bekas terbesar di Kota Kupang ini Mus mencapai angka penjualan tertinggi sebanyak lima mobil dump truck dengan harga rata-rata Rp 500 juta. Selain mengikuti bursa mobil Bank Christa Jaya ini, ia juga mengikuti pameran mobil di Motaain, Belu, perbatasan NTT dan Timor Leste beberapa hari lalu. Ia menitip dua unit dump truck yang akhirnya dibeli oleh warga Timor Leste secara cash pula. Saat bersamaan pameran di dua tempat ini, ada beberapa mobil yang dibeli langsung di Blessing Show Room ini.
Menurut Mus, ini adalah berkat Tuhan yang ia dapatkan. Berkat atas kerja keras, kerja dengan target dan kerja dengan menghadirkan produk yang berkualitas. Dalam catatan Mus, hingga saat ini sekitar 10 ribu mobil yang sudah terjual. Satu tahun, rata-rata sebanyak 300-500 unit mobil yang dibeli oleh konsumen. Saat bekerja sama dengan leasing memberi target penjualan, misalnya di atas Rp 5 miliar boleh pelesir ke luar negeri. Yang menjadi soal adalah jadwal pelesir itu pada akhir tahun di mana saatnya penjualan akan sangat tinggi.
Pilihan yang sungguh berat. Ingin pelesir ke luar negeri atau memilih untuk melayani angka pembelian yang tinggi dari konsumen. Pada bulan-bulan yang berakhir dengan ber (September, Oktober, November dan Desember) adalah-bulan yang penuh dengan angka pembelian mobil yang tinggi. (paul burin/kelanantt.com)









