Nasional
Home / Nasional / Cinta Florencia yang Patah di Gunung Bulusaraung, Sulsel

Cinta Florencia yang Patah di Gunung Bulusaraung, Sulsel

KITA patut menyampaikan dukacita yang sungguh mendalam atas tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu, 17 Januari 2026 siang.

Langit biru memang tak selamanya membawa kita pada kerinduan untuk tiba dengan selamat di tempat tujuan. Langit biru yang indah sekaligus buruk rupa ketika perjalanan udara menemui titik yang tragik. Dua titik yang paradoks. Senang bila kita tiba selamat dengan atau melalui penerbangan itu. Tapi, kita sungguh mengharu biru kala terbetik kisah pilu seperti yang dialami sepuluh orang penumpang burung besi yang telah berusia sekitar 25 tahun ini.

Moda angkutan yang selalu dikampanyekan sebagai yang “teraman,” yang ” tercanggih” dan sebagai cerminan “high technology” dibanding moda angkutan lain akhirnya menemui titik yang tak menggembirakan. Sungguh mati!

Berikut saya kutip tulisan yang sungguh human interest dari penulis Rosadi Jamani tentang peristiwa ini. Ia memotret suasana yang sungguh kuat dalam deskripsi tentang seorang perempuan, pramugari yang siap melangsungkan pernikahan beberapa bulan ke depan. Namanya Florencia Lolita Wibisono. Sepotong cinta yang utuh akhirnya patah di kaki Gunung Bulusaraung. Cintanya telah pergi untuk selamanya. Florencia, bunga yang telah layu. Begini narasi yang lengkap.

Pagi itu, langit tidak sekadar biru. Ia terlalu sopan, terlalu rapi, seolah sedang menghadiri pesta pernikahan yang batal tanpa pernah diberi tahu. Angin berembus dengan santun, awan berjalan pelan, dan dunia sepakat berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa yang akan hilang hari itu.

Mulai Februari 2026 Sertifikat Tanah Girik hingga Leter C tak Berlaku, DPR Imbau Warga Perbarui Sistem

Pesawat ATR 42-500, tubuh logam kecil dengan umur dua puluh lima tahun dan kelelahan yang disembunyikan, mengangkat sepuluh nyawa dari Yogyakarta. Sepuluh cerita yang masih setengah jalan. Sepuluh rencana yang belum sempat minta izin kepada maut. Di salah satu kursi, duduk seorang perempuan bernama Florencia Lolita Wibisono. Orang memanggilnya Ollen. Nama yang lembut, seolah diciptakan agar mudah dipanggil pulang.

Ollen menatap jendela. Di pantulannya, ada wajah perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istri. Ia tidak membawa gaun pengantin hari itu, tapi ia membawa bayangan gaun yang putihnya belum sempat kotor oleh realitas. Di tas kecilnya, mungkin ada ponsel berisi pesan yang belum terkirim, foto cincin yang belum dipamerkan, dan catatan belanja yang terlalu optimistis, bunga, katering, tanggal yang belum berani ditulis. Ollen somo kaweng. Mau nikah. Kalimat yang diucapkan sambil tertawa, karena hidup masih terlihat jinak.

Ia berdarah Manado. Dari ibunya, Kendis, Minahasa, tempat doa-doa tidak pernah disingkat. Doa diucapkan dengan napas panjang, dengan jeda yang memberi waktu bagi Tuhan untuk mendengar. Doa yang hari itu naik lebih cepat dari pesawat, tapi entah mengapa tiba lebih lambat.

Pesawat melaju. Mesin berdengung seperti lagu nina bobo bagi takdir. Lalu, di antara Maros dan Pangkep, langit memutuskan berhenti ramah. Kontak hilang. Kata yang terdengar administratif, dingin, dan kejam. Hilang kontak, seolah manusia adalah sinyal yang bisa disambungkan ulang. Seolah cinta bisa dihubungi kembali jika baterai diganti.

Jam di rumah keluarga Ollen berhenti berdetak, bukan karena rusak, melainkan karena tidak sanggup lagi bergerak ke depan. Keluarga bersiap ke Makassar. Kata bersiap terdengar ringan bagi mereka yang tak ikut mengemas duka. Mereka memasukkan pakaian secukupnya, tapi lupa, atau mungkin tak sanggup, memasukkan air mata, karena air mata tak pernah cukup. Mereka membawa harapan seperti kaca tipis, dijaga, dipeluk, namun tetap melukai.

Anggota DPR RI Ahmad Yohan: Penjarakan Pengusaha yang Merusak Hutan

“Semoga mukjizat,” kata mereka. Kalimat paling rapuh yang dimiliki manusia. Mukjizat selalu diminta ketika semua pintu sudah menutup diri. Mukjizat adalah cara kita menawar kenyataan, meski tahu tawaran itu sering ditolak.

Sementara itu, gunung Bulusaraung berdiri tua dan bisu. Ia telah melihat ratusan tahun manusia datang dan pergi. Hari itu ia kembali menerima rahasia. Badan pesawat ditemukan di puncaknya. Badan, kata yang menyayat. Mengingatkan bahwa yang jatuh bukan hanya logam, tapi juga tubuh-tubuh yang pernah hangat, yang pernah memeluk, yang pernah berjanji.

Bayangkan Ollen pada detik terakhir. Tidak perlu ledakan, tidak perlu teriakan heroik. Cukup sunyi. Sunyi yang berat. Mungkin ia memikirkan ibunya. Mungkin ia memikirkan calon suaminya yang sedang menghitung hari. Mungkin ia memikirkan satu hal paling sederhana, Aku belum sempat hidup. Tragedi paling kejam bukanlah kematian, melainkan hidup yang baru hendak dimulai lalu dipadamkan.

Di tempat lain, gaun pengantin menunggu di masa depan yang tak jadi datang. Cincin masih bulat, belum pernah menyentuh jari yang seharusnya. Undangan belum dicetak, tapi perpisahan sudah diumumkan oleh alam. Inilah hidup bekerja sempurna. Pernikahan dibatalkan tanpa pemberitahuan, oleh kekuatan yang tidak bisa diajak bicara.

Tim SAR bekerja, manusia melawan medan, negara melawan cuaca. Mereka mencari bukan hanya korban, tetapi kepastian, karena bagi keluarga, ketidakpastian lebih menyakitkan dari kabar terburuk. Lebih baik luka yang berdarah dari harapan yang menggantung.

Pesawat ATR Hilang Kontak di Maros, Sulsel

Lalu kita, yang membaca kisah ini, tiba-tiba tersadar. Betapa sombongnya kita pada rencana. Betapa yakinnya kita pada jadwal tiba. Padahal hidup tidak pernah menjanjikan pendaratan. Ia hanya memberi tiket sekali jalan, lalu menonton dari kejauhan saat kita percaya segalanya akan baik-baik saja.

Namamu kini bukan sekadar tercatat di manifes. Namamu tinggal di dada orang-orang yang mencintaimu, sebagai lubang yang tak bisa ditutup oleh waktu. Jika tangis jatuh saat membaca ini, biarkan. Itu bukan kelemahan. Itu tanda, di dunia yang sering dingin dan cepat lupa, kita masih manusia.(*/pol)